Karena cinta aku bahagia,
Karena cinta hidupku berwarna,
Karena cinta pula aku mengerti makna kasih sayang,
Tapi cinta membuatku sedih,
Tapi cinta membuatku bimbang,
Namun cintalah yang mengajariku arti sebuah pengorbanan,
Tanganku seolah tak henti-hentinya menulis kalimat itu, begitu berat
kisah cinta yang harus kulalui. Semua yang telah kumiliki harus aku
relakan demi manisnya persahabatan.
Resta, dialah
seseorang yang mengajariku arti sebuah cinta. Cinta yang indah, yang tak
harus bisa kumiliki. Kini semuanya harus aku lepas, termasuk Resta. Aku
tidak ingin ada yang terluka karena cinta kami. Aku juga tidak ingin
merusak hati seseorang yang diam-diam mencintainya.
Aku teringat akan hari yang menjadi titik awal perpisahan kami. Hari
itu, tak seperti biasa-biasanya. Awan mendung menyelimuti langit kota
Jakarta. Suara bergemuruh mulai terdengar, pertanda akan turun hujan.
Beberapa saat kemudian, hujanpun turun membasahi bumi.
Rintik-rintik ku dengar. Entah kenapa, hatiku gelisah. Tidak seperti
biasa-biasanya. Tak ada senyumpun yang tersirat di wajahku, tak tahu
kenapa seperti tiada gairah di hari ini. Dari dalam jendela kamar, aku
terus memandang keluar. Hujan yang sangat deras.
“ Kenapa hari ini turun hujan?, padahal sudah banyak rencana yang ingin aku kerjakan.” Keluhku.
Aku terus menunggu waktu hujan usai, namun tak kunjung reda. Aku
kesepian, tak ada yang menemaniku, termasuk sahabatku sendiri, Vio.
Sejenak ku alihkan fikiranku, aku teingat akan Resta, sedang apa ya dia
sekarang?.
Ku raih handhphoneku, dan kumainkan
jari-jariku membuat sebuah pesan padanya. Namun, baru saja aku mengirim
pesan pada Resta, tiba-tiba saja…
“ Eccha.. ada yang mencarimu nih nak.” Panggil ibu dari ruang tengah.
Akupun beranjak dari kamar dan menemuinya.
“ Siapa bu?.” Tanyaku.
“ Tuh, kamu lihat aja sendiri di ruang tamu. Ibu tidak terlalu kenal denganya, teman baru mu yah.”
“Nggak ah bu, perasaan,, Eccha nggak punya teman baru. Ya udah kalau gitu Eccha temuin dia dulu ya bu.”
Hatiku terus bertanya-tanya, siapa yang hujan-hujan begini datang
kerumahku. Dan ibu juga tidak tahu siapa yang mencariku. Padahal selama
ini ibu selalu mengetahui siapapun yang ingin bertemu denganku.
Langkah kakiku terhenti begitu berpapasan denganya di ruang tamu.
Seseorang yang samasekali tidak aku kenal. Namun aku berusaha untuk
akrab denganya. Aku berjalan mendekatinya dan duduk di hadapanya.
“Maaf, apa sebelumnya kita pernah bertemu?.” Tanyaku lembut pada orang itu.
“ Belum, aku Cuma mau tahu apa kamu benar yang namanya Eccha?.”jawab orang itu.
“ Iya, memangnya kenapa?.”
“ Apa kamu benar pacarnya Resta?.”
Aku mulai bingung dengan kedatangan orang ini kerumahku.
“ Kok kamu nanyanya seperti itu. Sebenarnya kamu itu siapa?, ada hubungan apa kamu dengan Resta?.”
“ Sudah jawab saja. Kamu benar pacarnya Resta kan.”
Aku semakin kesal dengan orang yang memakai baju kuning dan kira-kira
seumuran denganku ini. Pertanyaanya sungguh tidak wajar bagiku. Aku
belum pernah bertemu denganya, tapi kenapa dia bertanya seperti ini
padaku.
“ Kamu siapa sih?.”
“ Nama aku Indah. Benarkan kamu pacarnya Resta?.”
“ Iya benar, memangnya kenapa?. Memang kamu siapanya Resta?.” Tanyaku bingung.
Belum saja ia jawab, seluruh tubuhnya tiba-tiba memucat. Akupun semakin
heran dengan apa yang sebenarnya terjadi kali ini.
“ Aku pacarnya Resta. Terimakasih sudah mau jujur. Kalau gitu aku pamit.”
Dia langsung pergi gitu aja, aku hanya bisa terdiam. Aku juga kaget
dengan keteranganya. Tak ku sangka Resta tega menduakanku. Akupun
langsung berlari menuju kamar. Ku kunci semua pintu dan jendelanya. Aku
tidak perduli dengan ibu yang marah-marah, tidak jelas di telingaku.
Fikiranku bimbang. Hatiku sakit, perasaanku kecewa. Sungguh perih
batinku saat ini. Air mataku menetes di pipiku. Akupun langsung menutup
wajahku dengan bantal yang ada di hadapanku.
Aku
teringat akan Vio, sahabatku yang selalu mendengarkan curhatanku dan
memberikan solusi dari masalahku. Semoga kali inijuga, dia bisa
menenangkan fikiranku. Ku raih handhphoneku dan mulai menelponya.
Amarah, kekecewaan, dan kesedihan berkecamuk di hatiku. Mendengar
berita seperti itu seolah batinku ikut menangis, perasaanku hancur.
Untunglah Vio berhasil menenangkanku.
Hanya Vio yang
bisa kuhubungi saat ini, sementara Resta sudah setengah jam aku mencoba
menelponya tapi mailbox. Aku semakin marah denganya, di saat seperti ini
ia malah menghilang.
* * *
Suasana pagi seolah
menenangkan fikiranku kembali, ku lepaskan seluruh beban yang menumpuk
di otakku. Aku masih tak percaya Resta melakukan ini semua padaku. Semua
kesetiaan yang ku pertaruhkan selama ini, hanyalah kesia-siaan yang
kubuat.
Melihat jam yang sudah menunjuk angka 06.15.
aku bergegas untuk pergi sekolah. Langkahku seolah berat ku ayunkan. Aku
hanya bisa melangkah setapak demi setapak, menusuri jalan yang lumayang
jauh dari sekolahku.
Aku langsung merebahkan kepalaku
di atas tas yang kuletakkan di meja. Aku tak perduli dengan teman-teman
yang mulai berisik. Aku tidak bisa melupakan kejadian kemarin.
Fikiranku seolah buntu, tak dapat lagi ku berfikir.
“ Cha, loe kenapa?.” Tanya Tian, teman sebangkuku.
“ Nggak kenapa-kenapa.” Jawabku.
“ Loe di cariin Resta tuh.”
Ini kesempatan bagiku, ku lihat keluar kelas, benar ada Resta. Akupun
segera menghampirinya dan mencoba memintanya untuk menjelaskan semua
ini padaku.
Aku kesal denganya, sudah sekian lama aku menunggunya
menjelaskan perihal masalah ini, tapi apa? Dia malah diam, tak berkata
satu katapun.
“ Sudahlah, kamu buang-buang waktu aku.” Ucapku tegas. Aku langsung berdiri dan hendak pergi darinya.
Baru saja satu langkah kaki ini aku pijakkan. Resta menarikku untuk duduk di sebelahnya.
“ Cha, pelase. Tolong dengerin aku. Ini semua nggak seperti apa yang kamu fikirkan. Kamu salah paham Eccha.”
“ Salah paham gimana?. Udah jelas-jelas dia datang kerumahku dan bilang kalau kamu itu pacarnya dia.”
“ Kamu tuh dengerin aku dulu kenapa!, seminggu yang lalu itu, kami
kenalan dan dia, si Indah itu buat janji sama aku kalau kita jadi
kakak-adik. Itu doang nggak lebih.”
“ Alah jangan bohong kamu.”
“ Benar Eccha aku nggak bohong. Semalam itu mamahnya datang kerumah,
dia bilang sama aku kalau Indah masuk rumah sakit. Kemarn ketika pulang
dari rumah kamu badanya langsung drop dan langsung pingsan. Ternyata
jantugnya kambuh lagi. Selama ini aku juga nggak pernah tahu kalau dia
punya penyakit jantung. Aku bahkan nggak tahu kalau ternyata dia punya
perasaan sama aku.”
“ Bilang aja kalau suka sama dia.”
“ Sumpah! Aku nggak ada rasa sama dia, aku tuh Cuma nganggep dia
sebagai adik doang, nggak lebih. Terserah kamu mau percaya atau nggak
sama aku, yang penting aku udah jujur.”
Resta lanhsung pergi meninggalkanku, aku sangat bingung dengan ini semua. Ya tuhan,,, cobaan apa lagi ini?...
“ Ada masalah apa sih?.” Tanya Tian yang tiba-tiba datang menyapaku.
“ Nggak ada apa-apa.” Jawabku singkat.
“ Emm.. bohong..”
Aku hanya tertunduk dan mulai menceritakan semua semuanya pada Tian.
Tian sangat tidak percaya dengan apa yang aku ceritakan padanya. Tapi
saat aku ingat wajah Indah aku justru yakin Resta benar, karena saat aku
menjelaskan tentang hubunganku dengan Resta, wajahnya langsung memucat
dan secepat itu pula ia pergi.
Ah,, apa yang
sebenarnya terjadi??? Ada apa dengan kisah cintaku. Haruskah aku
mengorbankan semuanya hanya untuk dia??, aku bingung…. Ya tuhan, Bantu
aku.
* * *
“ Cha maafin aku.” Ucap Resta begitu jam pulang tiba sambil menarik tanganku.
“ Lepasin tangan aku.”
“ Kalau kamu begini terus aku juga bingung. Aku udah jelasin semuanya.”
“ Resta lepasin tangan aku, sakit tau. Lagipula malu dilihat orang!!.”
Begitu resta melepaskan tanganya dariku. Akupun langsung berlari
meninggalkan Resta. Sedikit demi sedikit aku menoleh kebelakang. Resta
masih terus mengikutiku. Tepat di tengah jalan aku berhenti.
“ Jangan ikuti aku terus.” Bentakku padanya.
“ Please maafin aku.” Pintanya.
“ Sudahlah Res, berapa kali kamu bohong sama aku. Berapa kali juga aku percaya lagi sama kamu.”
“ Jadi itu mau kamu? Ya sudahlah terserah kamu aja.”
Akhirnya,
Resta yang benar-benar marah padaku. Aku juga tidak tahu harus percaya
dengan siapa, Indah atau pacarku sendiri, Resta?..
Belakangan kuketahui, Resta benar-benar tidak bohong. Sepupunya Indah
yang bicara langsung dan menjelaskan semuanya padaku. Aku kaget bukan
kepalang. Jika dari awal aku sudah percaya pada Resta, tak mungkin ini
akan terjadi.
Aku hanya bisa menangis menyesali
perbuatanku pada Resta. Dua orang yang telah kusakiti, apakah aku harus
merelakan Resta demi Indah?, tapi.. rasanya sangat menyakitkan, aku
begitu menyayanginya, namun ada seseorang yang sangat menginginkan Resta
ada di sampingnya.
Cuma maaf yang kubisa ucapkan
pada Resta, namun semenjak tadi, Hpnya terus tidak aktif. Aku bingung
harus gimana, sejenak terlintas difikiranku. Telepon Vio, ya benar
telepon Vio, mungkin dia bisa membantuku.
“ Hallo vio?.” Ucapku.
“ Iya benar. Ada apa Cha?.”
“ Loe tahu Resta ada di mana nggak sekarang? Dari tadi gw telepon tapi hpnya nggak aktif.”
“ Tadi pagi dia bilang sama gw, kalau hpnya dia hilang.”
“ Hah? Hilang dimana?.”
“ Nggak tahu deh, Resta Cuma bilang begitu doang.”
“ Oh gitu ya, ya sudah deh. Makasih ya.”
“ Iya.”
KLIK..!!!
Kumatikan
teleponku. Aku melihat ke luar jendela kamarku, terlihat seseorang
tengah berjalan tertatih menuju rumahku. Ku pandangi sesaat anak itu,
wajahnya seperti Resta. Iya, itu benar Resta. Aku langsung berlari
menuju pintu depan rumahku.
“ Resta kamu kenapa?.” Ucapku panik begitu kami bertemu di depan rumah.
“ Nggak apa-apa kok. Ini hanya kecelakaan kecil, aku Cuma nggak hati-hati di jalan, jadi kaya gini deh.”
“ Cerita sama aku kamu kenapa?.”
“ Tadi aku keserempet mobil.”
“ Tapi kamu nggak apa - apa kan.”
“ Cuma lecet-lecet doang kok.”
“ Duh,, kok jadi kaya gini sih? Kita masuk aja yuk, biar aku obati luka kamu.”
Aku mengajak Resta duduk di sofa ruang tamu rumahku. Ku ajak dia bicara mengenai masalah waktu itu.
“ Res, maafin aku yah.” Ucapku tertunduk.
“ Iya, aku juga minta maaf ya.”
“ Terus keadaan Indah sekarang gimana?.”
“ Dia udah pulang dari rumah sakit kok. Aku mau jalanin hubungan kita kaya dulu lagi Cha.”
“ Berat bagiku untuk menjalankan semuanya seperti biasa.”
“ Maksud kamu apa?.”
“ Resta, aku sayang sama kamu, tapi ada seseorang yang lebih sayang
sama kamu. Indah membutuhkan kamu Res. Aku nggak bisa egois soal ini,
aku rela melepas kamu demi dia.”
“ Enggak Cha, aku
sayang sama kamu. Aku nggak mau jalanin hubungan sama dia. Lagipula
percuma kalau aku nggak sayang sama dia.”
Aku meraih tanganya dan
memandagnya lekat-lekat. Kulihat setetes air mata menetes di pipinya.
Aura wajahnya berbeda jauh sekali seperti awal dia kesini. Aku paham,
aku mengerti, ini berat bagiku dan baginya. Tapi mungkin ini yang
terbaik untuk kami.
“ kamu bisa belajar sayang dengan dia, kamu bisa belajar mencintainya. Aku juga yakin kamu bisa melupakan aku.”
“ Terus kita gimana?.”
“ Kita sahabatan aja yah.” Ucapku lemas. Kubendung semua tetes air
mataku selama dia masih disini, aku tidak mau cengeng dihadapanya.
“ Cha, aku sayang sama kamu, Aku nggak mau kehilangan. Tapi kamu
sendiri yang menyuruh aku untuk meninggalkanmu. Aku sudah janji, aku
sudah Nazar pada diriku sendiri, apapun keputusan kamu, itulah yang akan
aku ambil. Meskipun itu menyakitkan hatiku. Tapi untuk selamanya aku
tidak akan pernah melupakan kamu. Kalau gitu aku pulang, jaga dirimu
baik-baik yah.”
Resta pergi dari rumahku. Seketika
itupula aku tumpahkan seluruh air mataku. Sungguh pahit kisah cinta yang
ku lalui saat ini. Aku tidak tahu harus gimana lagi. Biarlah orang yang
aku cintai bersama dengan seseorang yang lebih mencintainya.
* * *
Mungkin bagi sebagian orang yang mendengar cerita cintaku, pasti akan
mengatakan kalau aku ini bodoh, rela melepaskan seseorang yang masih
sangat ku cintai pergi kepelukan orang lain.
Air
mataku seolah mengering, tak bisa lagi ku tumpahkan. Bila kuingat
kejadian itu. Tak tahu apa yang aku fikirkan saat itu, sampai aku rela
berbuat seperti ini. Tapi aku senang, aku bahagia, karena bisa melihat
seseorang yang membutuhkanya tersenyum dihadapanku.
Biarlah kusimpan semua luka yang kusebabkan sendiri. Penyesalan sudah
terlambat. Tapi mungkin inilah jalan yang terbaik untuk kami berdua.
Atas Nama Cinta Sejati, aku rela berkorban demi seseorang yang
kusayangi, dan semoga dia bahagia karenanya. Cinta tak selamanya harus
memiliki, tapi pengorbanan, dan kesetiaan cintalah yang akan membawa
pada Cinta Sejati.
Selamat tinggal Resta, semoga kau
bahagia bersama Indah. Aku akan selalu mengingatmu di dalam hati dan
perasaanku, sebagai seseorang yang telah mengisi hatiku dan sangat
menyayangiku.
* * *
No comments:
Post a Comment