Seindah Lukisan Senja









HAREZKA FIRANSYAH. Siapa yang tidak mengenal namaku, putra pewaris tunggal sang Konglomerat Adi Firansyah. Semua yang orang lain inginkan dalam hidupnya, bisa dengan mudah aku dapatkan, Harta, Cinta, Kebahagiaan, Tahta, Teman semua hal itu adalah hal biasa yang selalu hadir di hidupku. Memang, tak ada laki-laki yang hidup sepertiku, Tampan, dan berkarisma, wanita manapun yang melihat penampilanku, mereka pasti langsung jatuh cinta. Ah... indahnya hidup ini, tidak perlu bersusah susah untukku dapatkan apapun yang aku inginkan.
            Sambil menyisir rambut di depan cermin, aku mematut diriku dalam-dalam, memperhatikan betapa rupawannya wajah ini, alis tebal, dengan mata yang sipit (ini satu-satunya yang di wariskan ibu padaku, tentunya tidak terlalu kusukai). Semkain lama aku perhatikan mataku, rasanya ingin sekali bilang “Ibu, kenpa kau wariskan mata sipitmu padaku.” Tapi, ya mau gimana lagi, setidaknya wajahku ini masih tetap tampan.
            “ Cukup...” gumamku begitu selesai merapikan diri di depan cermin. Segera ku hampiri kedua orang asing yang tinggal di rumahku. Sebenarnya, mereka memang bukan orang asing dalam keluarga Firansyah, ya bisa di bilang merekalah orang terdekat yang di miliki ayah. Lebih tepatnya mereka adalah Om dan Tante, sebutan yang aku sendiri tidak ingin menyebutnya.
            “ Kau mau langsung ke kampus?, tidak sarapan lagi?.” Tanya laki-laki yang selalu ingin aku panggil dengan sebutan OM. Dia adalah saudara laki-laki satu-satunya yang ayah punya. Tapi lupakanlah, aku tidak akan memanggilnya Om.
            “ Kau lihat penampilanku kan?, sudah jelas aku mau langsung ke kampus, lagi pula aku punya banyak uang untuk beli sarapan.” Jawabku berlalu dari mereka.
            Mobil sport berwarna merah yang kini sedang ku kendarai adalah milikku yang paling berharga. Catnya masih mengkilap dengan sticker-sticker di sekitar bodynya yang membuatnya semakin gagah. Jalanan macet di ibukota memang sudah menjadi sarapanku tiap pagi saat berangkat ke kampus, tapi satu hal yang membuatku tetap senang melintas adalah, hanya mobil milikku satu-satunya yang terlihat berkilauan di antara barisan-barisan panjang kendaraan. 
            Tapi, Sebahagia-bahagianya aku, aku juga punya kesedihan, di rumahku tadi, aku tidak pernah melihat wajah kedua orang tuaku, di rumah besar yang selalu ku tinggali itu, hanya ada dua orang yang sudah ku ceritakan. Bisa di bilang, kedua orang itulah yang telah menjaga dan merawatku sampai aku tumbuh seperti ini. terkadang, gejolak gejolak di dadaku bermunculan ketika bersikap tidak sopan pada mereka.
            “ Kenapa kau bersikap seperti itu?, mereka yang telah merawatmu dari kecil.”
            “ Hah?, mereka memang merawatku, tapi dengan uang milik ayahku, aku tidak akan bersikap sopan pada mereka, Toh, mereka memang hanya mengincar harta kekayaan ayah.”
            “ Jika mereka memang hanya mengincar kekayaan ayah, mereka pasti sudah menelantarkanmu.”
            “ Menelantarkanku? Apa kau gila?, mana ada orang yang tega menelantarkan anak tampan sepertiku.”
            Huaaa..... percakapan di dalam batinku, selalu membuatku pusing tak karuan. Sesaat ingatanku kembali pada masa 13 tahun yang lalu. saat kedua orang tuaku pergi meninggalkanku. Mereka tidak akan pernah kembali lagi. Kecelakaan tragis yang terjadi saat usiaku 7 tahun telah merenggut nyawa mereka, dan karena itupula, hak asuh diriku dan harta kekayaan ayah, di berikan pada kedua orang itu, tapi tenang saja, aku tetaplah seorang pewaris tunggal kerajaan FIRANSYAH, dan seluruh harta ayah akan kembali di berikan padaku saat aku dewasa.
* * *
            Selalu seperti biasa, ketika mobil sport gagahku ini sudah berhasil ku daratkan di parkiran kampus, para wanita cantik penghuni kampus satu persatu mulai mendekat, menyapa dengan segala bentuk keramahan mereka, ya aku sebagai laki-laki berusaha membalas dengan ramah, karena aku tidak ingin mereka terluka. Beginilah hidupku, betapapun kesedihan yang aku rasakan, tuhan selalu punya cara menghiburku.
            “ Ezka...., sudah tiba kau rupanya.” Sapa Dimas sambil menepuk bahuku. Dialah teman segaligus sahabat yang selalu memberikan nasihat agar merubah sifatku, yang dia fikir ‘Sombong.’
            “ Dimana para gadis berkumpul, itu tandanya aku datang.” Jawabku tenang sambil merangkul tubuhnya dan masuk ke area kampus.
            “ Kau itu seperti bangkai yang selalu di rebutkan para burung gagak.” Ledek Dimas.
            Ini nih bercandaan yang tidak ku sukai dari Dimas, aku memukul pelan kepalanya yang tak berisi itu “ Jaga bicara kau.” Lanjutku.
            “ Haha.. bercanda sob.” Sahutnya.
            Kelas Kesenian. Mata kuliah pertama yang ku ambil hari ini. tak ada yang spesial di ruang kesenian tempat ku dan dimas berdiri saat ini, hanya beberapa peralatan yang ku fikir tidak terlalu penting. Ku letakkan tasku di meja deret ke tiga dari depan, Dimas selalu duduk di sampingku. Namun, baru saja aku ingin duduk, ponsel di celanaku tiba-tiba berdering. Ku lihat nama yang tertera ‘ Tante Rose.’ Ada apa lagi dia menelponku sekarang.
            “ Halo ?, Ada apa ? aku baru saja tiba di kampus.” Sahutku kesal.
            “ Ezka, bisa kau ke Rumah sakit sekarang?, Om mu, terkena serangan jantung, dia sedang di UGD sekarang. Cepat nak, tante benar-benar khawatir.” Ucapnya.
            Aku menghela nafas sejenak. Tidak terlalu memusingkan apalagi khawatir padanya, dia memang sudah biasa terkena serangan jantung dadakan seperti sekarang.
            “ Baiklah aku kesana sekarang.” Jawabku tenang.
            ‘KLIK’ ku matikan sambungan telponnya. Dan kulihat Dimas memandangku dengan tatapan penasaran.
            “ Aku harus ke rumah sakit sekarang, laki-laki itu masuk rumah sakit lagi.” Ucapku pada Dimas dan segera pergi tanpa mendengar jawaban Dimas lagi.
            Dia benar-benar hobi keluar masuk rumah sakit. Menghabiskan uang ayah, agar tidak tersisa sedikitpun untukku. Huh?, cara licik seperti apa ini!, aku sungguh tidak mengerti dengan rencana yang laki-laki itu ingin lakukan padaku. Usiaku sudah memasuki 22 tahun, dan dia belum sedikitpun berniat mengembalikan harta ayah!, ini benar-benar tak habis ku fikir. 
            Dengan kecepatan 40 km/jam, aku kendarai mobil kesayanganku, membelah hiruk pikuk keramaian ibukota. Memang sengaja ku perlambat, aku sudah terlalu bosan mendengar berita ini yang hampir setiap minggu ku dengar.
            30 Menit aku baru tiba di rumah sakit, wanita itu kulihat sedang menangis di depan ruang UGD, jika aku tidak kasihan padanya, tak ingin aku berniat menghampirinya.
            “ Dimana dia?, bagaimana keadaannya?.” Tanyaku tanpa kecemasan sedikitpun.
            Wanita itu mengangkat wajahnya menatap lekat kearahku, tanpa mengucapkan apapun, tiba-tiba dia langsung memelukku dan terisak saat itu juga. Aku tetap Tenang, bahkan tak sesekali ku turunkan egoku.
            “ Dokter bilang Ommu sudah tidak bisa di selamatkan lagi... dia.. dia....” jawabnya terbata.
            Aku langsung terdiam. seluruh bulu kudukku tiba-tiba berdiri, mataku yang sipit ini melebar begitu saja, terkejut?, Kecewa?, atau bahkan kehilangan?, aku tidak tahu apa yang ku rasakan sekarang, yang jelas, hatiku tiba-tiba bergetar saat.
            Wanita itu melepaskan pelukannya dari ku, dia memberikan sebuah lukisan yang dibawa di tangannya. Aku tak mengerti, untuk apa dia membawa lukisan itu dan memberikannya kepadaku.
            “ Kenapa kau tiba begitu lama?.” Tanyanya sambil menghapus air matanya.
            Aku diam tak menjawab. Tidak mungkin jujur jika aku sengaja memperlambat laju mobil. “ Maafkan aku.” Jawabku sekenanya.
            “ Sebelum om mu terkena serangan jantung dan masuk ke rumah sakit, dia sempat bilang padaku untuk memberikan lukisan ini padamu, aku tidak tahu maksudnya apa, tetapi, dia bilang jika kau ingin seluruh harta kekayaan Ayahmu kembali, kau harus menemukan pemilik lukisan ini.” jelasnnya.
            Aku kaget bukan kepalang. Permainan apa lagi ini! “ Apa dia sudah gila?, bagaimana aku bisa menemukan pemilik lukisan ini?, tidak ada petunjuk apapun disini!.” Seruku agak kesal.
            “ Aku tidak tahu, tapi dia mengatakan seperti itu padaku, jika kau tidak menemukannya dalam 3 bulan, seluruh harta kekayaan ayahmu akan di berikan kepada yayasan panti asuhan yang selalu di santuni ayahmu semasa ia hidup dulu.” Ucapnya lagi. “ Aku akan pergi sekarang.” Lanjutnya.
            Aku perhatikan tubuh wanita itu yang perlahan menjauh, ini gila!, benar benar gila!, kenapa harus di persulit jika ingin menyerahkan sesuatu yang sudah semestinya menjadi hakku!. Aish....
            Sesaat kulihat Lukisan yang kini ada di tanganku. Berharap ada petunjuk yang bisa ku temukan tentang siapa pemiliknya. Lukisan yang kupegang saat ini, terlihat begitu berbeda dari lukisan yang pernah ku temui sebelumnya, ada makna yang tersirat, tapi tidak bisa aku pastikan apa makna itu. Mataku mencari dari sudut ke sudut yang lain, berharap ada tulisan yang menerangkan nama pemiliknya. 
            Bandung 1996
            Aku memang tidak bisa berbicara,
            Tapi aku tahu apa yang ingin kau katakan,
            Aku memang tidak bisa melihatmu,
            Tapi aku bisa mendengar suaramu,
            Aku hanyalah senja,
            Yang tersembunyi di balik langit.
Kata-kata itu tak sengaja ku temukan di sudut bawah lukisan. Kata-kata yang sama sekali tidak bisa ku jadikan petnjuk untuk mencari sapa pemilik lukisan ini sebenarnya. Ini seperti teka-teki, teka-teki yang sangat malas aku pecahkan.

No comments:

Post a Comment