Blog post ini dibuat
dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your
happiness with The Bay Bali & Get discovered!
Kebahagiaan
itu bukanlah sekedar sebuah senyuman, melainkan Kebahagiaan itu adalah ketika
kita ikhlas dengan segala ketentuan yang tuhan berikan.
Bintang Purnama Hadi, seorang gadis
lumpuh yang bergantung pada kursi roda dalam kesehariaanya, namun ia tak pernah
putus asa bahkan ketika kenyataan harus di hadapi bahwa wanita yang sangat di
cintainya, sang Ibu, harus menderita kelainan Jiwa, sementara Pak Hadi, ayahnya
selalu melarangnya untuk mendekati ibunya.
Hari ini adalah hari pertama Bintang
masuk ke sekolah barunya di Jakarta sebagai murid kelas XI SMK. Setelah
sebelumnya ia bersama keluarga tinggal di Bandung.
Namun, Baru saja Bintang hendak
masuk kelasnya, tiba tiba saja,
“ Eh, loe nggak salah masuk kelas?,
atau loe salah masuk sekolah ?.” ucap seorang cowok yang tiba-tiba
menghadangnya di pintu kelas.
“ Nggak kok, ayah yang antar aku
kesini, nggak mungkin kalau salah.” Jawabnya sambil berusaha masuk.
“ Loe nggak nyadar apa kalau loe itu
CACAT?, C..A..C..A..T, jalan aja harus pakai kursi roda, harunya loe itu
sekolah di SLB.”Lanjutnya .
“ Biarin dia masuk.” Ucap seorang
cowok yang tiba-tiba datang dan menghampiri mereka.
Dialah
Tristan, memang anaknya cenderung diam dan tak banyak bicara, namun wibawanya
yang tegas, membuat ia banyak di kagumi cewek cewek.Tanpa berkata lagi, cowok
yang menjegatnya di pintu langsung memberikan jalan untuknya.
“ Makasih ya.” Ucap Bintang pada
Tristan.
Tristan tak menjawab, ia terus saja
melangkah tanpa memperdulikan Bintang. Matanya menjelajahi seisi ruangan,
mencari salah satu kursi kosong.
“ Aku boleh duduk disini?.” Tanyanya
ketika menemukan kursi kosong di sebelah seseorang.
“ Boleh kok.” Jawabnya ramah.
“ Namaku Bintang.” Ucapnya sambil
menjulurkan tangan.
“ Gw Nita.” Jawabnya membalas uluran
tanganya.
Bintang tersenyum dan sejenak
melirik ke arah Tristan yang asyik dengan beberapa buku bacaanya.
“ Dia itu namanya Tristan, kapten
tim sepak bola di sekolah ini, tapi sayang setelah naik ke kelas dua, dia jadi
pendiam kaya gitu, padahal tadinya dia anak yang ramah dan pandai bergaul, dia
juga tiba-tiba berhenti bermain sepak bola.” Jelas Nita saat menyadari Bintang
memperhatikan Tristan
Bintang Hanya menggangguk dan
mencoba memahami sosok seorang cowok yang ada di hadapanya, dari tatapanya ia
yakin ada sesuatu yang disembunyikan oleh Tristan.
* * *
“
Kring…..” Akhirnya Bel istirahat yang mereka tunggu-tunggu pun berbunyi.
“ Bin, Gw mau ke Kantin Loe
hati-hati sama Ezka dan Ceesanya ya.” Pesan Nita Pada Bintang.
“
Ezka?.”
“
Yang tadi jegat loe di depan pintu.”
“ Oh, Iya, tenang aja.”
Setelah Nita pergi, Bintangpun
memutuskan untuk keluar kelas dan memperhatikan siswa lain yang sedang bermain
sepak bola. Hingga akhirnya ia dapati Tristan sedang melakukan hal yang sama
denganya tak jauh dari tempatnya berada.
“
Kamu nggak ikut main?.” Ucap Bintang sambil mendekati Tristan.
“
Nggak penting, Cuma buang-buang waktu.” Jawab Tristan tanpa melihat kearahnya.
“
Oh, Aku Bintang.” Lanjutnya sambil mengulurkan tangan.
“
Udah tahu.” Jawabnya sedikit ketus.
“
Emm… kamu Tristan kan, oh iya makasih ya soal tadi.”
“ Gw
nggak ada niat buat nolongin loe kok, kebetulan aja tadi gw mau masuk.” Jawab
Tristan. Tanpa basa basi lagi, ia langsung meninggalkan Bintang.
“
Dasar cowok aneh.” Gumamnya.
* * *
Berhari-hari
Bintang masuk sekolah dengan ledekkan dari Ezka dan teman-temanya, belum lagi
sikap jahil yang hampir mencelakakanya, Namun Bintang tak sesekali benci dan
berusaha membalas perbuatan Ezka.
Baru saja Bintang hendak masuk ke
kelasnya, tiba-tiba …
“ Prang…..” suara Ember terjatuh
dari atas pintu. Untung saja Tristan langsung mendorongnya sehingga ember itu tidak
mengenainya.
“ Siapa sih orang bodoh yang naro
ember di atas pintu.” Ucapnya dengan nada marah, sementara Bintang masih
terlihat kaget ia bahkan sampai tidak melihat bagaimana Tristan dengan cepat
menolongnya.
Beberapa
saat sejak kejadian itu Bintang kembali duduk di kursinya dan melihat kearah
Tristan yang hanya diam dan fokus pada mata pelajaran, sampai tiba saatnya
pelajaran olahraga, Bintang masih belum bisa mengucapkan terimakasih padanya.
Semua murid telah berkumpul di
lapangan, Kecuali Bintang sendiri yang tinggal di dalam ruangan Olahraga,
sampai akhirnya Tristan datang dengan wajah sangat Pucat.
Bintang langsung terlihat panik
ketika melihat Tristan tiba – tiba terjatuh di hadapanya.
“ Tolong….” Teriak Bintang berusaha
mencari pertolongan karena kondisi Tristan yang semakin parah di tambah ia yang
tidak bisa melakukan banyak hal. Namun dengan sigap Tristan langsung membekap
mulut Bintang.
“ Jangan teriak gw mohon, gw nggak
mau semua orang tahu kalau gw sakit, tolong ambilin obat yang ada di tas gw.”
Ucap Tristan sambil menahan rasa sakitnya.
Tanpa banyak bertanya lagi, Bintang
memutar kursi rodanya dan bergegas menuju kelas. Beberapa saat kemudian,
akhirnya Bintang kembali dan langsung menyerahkan obat itu pada Tristan, tanpa
berbicara apapun, Tristan langsung meminumnya, saat itulah kondisinya kembali
stabil.
Bintang turun dari kursi rodanya,
dan membiarkan kakinya menjadi bantal untuk kepala Tristan.
“ Makasih ya Bin.” Ucap Tristan
sambil tersenyum, ia memejamkan matanya untuk beberapa saat.
*
* *
Pak Hadi segera mengganti bajunya
ketika pulang bekerja dan bergegas untuk makan malam bersama putri tercintanya.
“ Bintang, makan malam dulu, ayah
bawakan makanan kesukaanmu nih.” Teriak pak Hadi memanggil Bintang.
“ Bintang lagi mandi ayah.”
Jawabnya.
Tanpa menunggu Bintang selesai
mandi, Pak Hadi langsung masuk kedalam kamarnya dan merapikan barang barang
bintang yang Nampak berantakan, namun secara tak sengaja, sebuah botol obat
tiba tiba jatuh tepat di depan kakinya.
“ Bintang, ini obat siapa?.”
Tanyanya sambil mengambil obat yang terjatuh di kakinya.
“ Obat apa ayah?.” Jawab Bintang
begitu masuk kedalam kamarnya setelah selesai mandi.
Pak Hadi langsung menunjukkan obat
yang di temukanya.
“ Ini punya temanku yah, pasti
kebawa sama aku.” Ucap Bintang sambil meletakkan obat itu di atas meja dan tak
begitu memperdulikanya.
“ Bintang, kamu harus kembalikan
obat itu pada pemiliknya.”
“ Besok aja ayah, inikan udah malam,
lagipula itukan Cuma obat sakit perut biasa.”
“ Bin, obat itu bukan untuk sakit
perut, ayah tahu persis kalau Obat itu untuk penderita Sirosis hati, teman ayah
dulu pernah ada yang punya obat seperti ini, sebelum akhirnya ia meninggal.”
Jelas ayahnya membuatnya seakan tak percaya.
“ Ayah serius?.”
Pak Hadi mengangguk.
“ Apa nggak ada cara untuk sembuhin
penyakit itu yah?.”
“ Satu-satunya cara Cuma
transplatasi hati, Obat itu hanya untuk meredakan rasa sakit bin.”
Pak Hadi dan Bintang mendadak
hening, dalam fikiran Bintang, Tristan pasti sangat membutuhkan obat itu. Baru
saja Bintang memikirkan cara untuk mengembalikan obat itu pada Tristan,
tiba-tiba saja…
“ Teeett….” Suara Bel, menyadarkan
mereka berdua.
“ Biar Bintang yang buka yah.”
Ucapnya dan segera menuju pintu rumahnya
Bintang Nampak Kaget begitu
mendapati Tristan datang bertamu
“ Maaf ya, malam-malam gini gw
dateng ke rumah loe, oh iya Obat gw ada sama loe kan.”
“ Sebentar.”
Bintang pun kembali kedalam kamarnya
dan mengambil obat yang dimaksud Tristan, sementara Tristan tak sengaja melihat
Ibunya Bintang yang duduk di sofa seorang diri sambil memegangi boneka dengan
rambut kusut tak karuan.
“ Bintang Ibu loe ???.....” Tanya
Tristan heran begitu Bintang kembali menghampirinya
“ Gila?!.” Jawab Bintang dengan
tenang.
“ Maaf, gw nggak bermaksud.”
“ Nggak apa-apa kok, udah biasa, ayo
duduk dulu.” Ucap Bintang mempersilahkan Tristan duduk.
“ Apa yang terjadi Bin?.”
“ Ceritanya panjang Tris, ibu jadi
seperti sekarang karena kejadian 8 tahun yang lalu, Waktu itu usiaku masih 7
tahun, aku sama adik aku lagi asyik bermain di depan rumah sementara ayah sama
ibu pergi bekerja, tapi tiba-tiba waktu aku lagi menyebrang jalan, ada mobil
kencang dan untungnya adik aku langsung nyelamatin aku tapi sayang ternyata dia
yang tertabrak, sementara kaki aku terbentur pembatas jalan dan ada bagian
syaraf yang terputus, Ibu sama ayah sempat syok saat di kabari kami masuk rumah
sakit, apalagi waktu adik aku di kabarkan meninggal dan aku lumpuh, Ibu semakin
stress dan akhirnya seperti ini.” Jelas Bintang sambil menahan tagisnya.
“ Sudah Bin, nggak usah di
lanjutkan.”Ucap Tristan berusaha menenangkan Bintang.
“ Maaf ya, aku jadi cengeng gini.”
Jawab Bintang sambil mengelap air matanya.
“ Kamu lihat bintang-bintang itu.”
Ucap Tristan menunjuk kelangit.
Bintang hanya mengangguk.
“ Di antara bintang-bintang yang
lainya, hanya ada satu bintang yang bersinar begitu terang, dan bintang itu
adalah Loe.”
“ Aku bukan bintang yang kamu maksud
Tris, aku nggak bisa menerangi kehidupan orang lain, aku Cuma bisa menutupi
kesedihanku sendiri dengan kebahagiaanku.”
“ Loe inget waktu loe di ledek sama
Ezka, sama sekali nggak tergambar dari
muka loe kebencian akan sikap dan tindakan Ezka yang hampir tiap hari nyakitin
loe.”
“Apa yang bisa aku perbuat Tris?,
aku Cuma gadis cacat yang berharap kesempurnaan dari kekuranganku.”
Tristan menatap sesaat wajah Bintang
yang tersenyum dengan manis, ia semakin kagum dengan keteguhan seorang gadis di
sebelahnya, Bintang memang tidak cantik seperti wanita yang mengidolakanya di
sekolah, tapi dia memilikki sesuatu yang beda dari semua gadis yang pernah
ditemuinya.
*
* *
“ Gw belajar banyak dari loe bin,
memang tak ada manusia yang sempurna di bumi ini, memang tak ada kebahagiaan
yang sempurna, jika kita sendiri tidak menyempurnakanya, Loe memang Bintang,
Bintang dalam hidup gw.” Ucap Tristan yang asyik bersantai di dalam kamarnya.
Setelah ia cukup mengenal Bintang,
Tristan seakan memiliki nyawa kedua untuk bersemangat menjalani hidupnya, tak
lagi ia berfikiran untuk menyerah akan penyakit yang menggrogoti tubuhnya.
Tristan tak sengaja mendapati
Bintang sedang asyik membaca Novel di halaman belakang sekolah.
“ Loe disini bin?.” Ucap Tristan.“
Loe pasti udah tahu kan soal penyakit gw, tapi loe nggak pernah bahas itu di
hadapan gw.”Lanjutnya.
“ Karena aku nggak mau kamu
terganggu dengan pertanyaan pertanyaan aku, aku juga tahu kenapa kamu berhenti
bermain bola.”
Tristan tersenyum dan menggenggam
tangan Bintang.
“ Cuma loe satu-satunya cewek yang
udah buka mata hati gw, bahwa hidup ini bukan hanya untuk sekedar mengeluh, bintang,
gw sayang sama loe.” Ucap Tristan.
Bintang langsung kaget dengan ucapan
Tristan yang begitu tiba-tiba.
“ Aku kan Cuma gadis cacat yang
hanya bergantung pada kursi roda.”
“ Fisik loe memang cacat, tapi hati
loe luar biasa sempurna, izinin gw untuk menjaga loe Bintang, walaupun gw
sadar, gw hanya bisa sesaat.”
“ Bagiku, berapa lamapun sisa waktu
yang kita miliki, aku nggak perduli, karena kamu akan tetap berada disini, di
hatiku.”
*
* *
Seminggu semenjak mereka jadian,
keadaan Tristan semakin memburuk, ia bahkan harus menjalani cuci darah 4 kali
dalam sebulan, setelah sebelumnya hanya 2 kali dalam sebulan. Tristanpun harus
merelakan untuk tidak masuk sekolah selama berhari hari. Belum lagi rasa gatal
yang ia rasakan setelah cuci darah berlangsung. Bintangpun sadar akan keadaan
Tristan yang tak bisa berada disisinya setiap hari.
“ Bin, aku boleh minta satu
permintaan gak sama kamu?.”Ucap Tristan pada Bintang yang menemaninya di rumah
sejak pagi.
“ Apa?, ngomong aja.”
“ Aku ingin kita ke Bali, itu adalah
tempat terakhir yang ingin aku kunjungi, untuk yang terakhir kalinya.”
“ Tapi itu bahaya untuk kamu Tris,
apalagi kondisi kamu saat ini.”
“ Aku akan baik-baik saja selama ada
kamu Bintang.” Ucap Tristan dengan sangat yakin.
Bintang
tak kuasa menolak ajakan Tristan, bahkan Ibunya sendiri yang meminta ia untuk
memenuhi permintaan Tristan, begitu tiba di rumah iapun langsung memberi tahu
ayahnya. Sontak saja Pak Hadi langsung menolak mentah-mentah permintaan itu,
namun dengan alasan yang tidak bisa di tolak, akhirnya pak Hadi pun setuju
untuk ikut ke Bali.
* * *
Sempat
ada rasa takut yang menghantui Bintang sejak awal mereka berangkat sampai saat
ini, takut akan kehilangan sosok seseorang yang sangat di cintainya.
Pesawat
yang mereka tumpangi akan segera mendarat di Bali, namun tetap saja rasa
Khawatir yang tersirat di wajah Bintang masih sangat Nampak dan tak bisa di
sembunyikan.
“ Jangan Takut, semuanya akan baik-baik
aja.” Ucap Tristan mencoba menenangi Bintang.
Tristan dan keluarga memilih penginapan
tak jauh dari bibir pantai. Mereka sengaja memilih tempat ini karena memang
lokasinya yang strategis, bahkan memiliki pemandangan pantai yang indah.
Warna kuning ke emasan sangat Nampak
terlihat saat matahari mulai kembali ke tempat persinggahanya, Tristan dan
Bintang menikmati pemandangan itu dengan nuansa penuh kebahagiaan.
“
Ini adalah Sunset terindah yang pernah aku lihat, Tuhan, Terimakasih.” Ucap
Bintang sambil
bersandar di bahu Tristan.
* * *
‘Aku
Tunggu kamu di Restaurant The Bay Bali,
tempatnya nggak jauh dari sini’
Sebuah
Pesan singkat yang di tuliskan Tristan di atas kertas yang ia berikan pada pak
Hadi. Bintangpun bergegas menuju tempat yang dimaksud oleh Tristan, matanya
langsung melihat kesekeliling yang dihiasi lampu-lampu
yang begitu indah, panorama pemandangan laut pada malam hari di sertai dengan
makan malam yang terlihat lezat.
“ Kamu suka tempat ini?.” Ucap
Tristan saat Bintang datang menghampirinya
“ Iya, Aku suka banget.”
Tristan menggendong tubuh Bintang
dan mengajaknya duduk di atas pasir putih di hadapan laut biru nan luas begitu
mereka selesai makan malam. Bintang bersandar di atas dada Tristan, dan
Tristanpun memeluk tubuhnya seakan tak ingin melepasnya.
“
Aku lebih baik pergi sekarang, daripada harus hidup selamanya tanpa pernah
mengenalmu.” Ucap Tristan.
Tangan
kekar Tristan mengusap lembut rambut Bintang, Bintangpun merasa sangat nyaman
berada dalam dekapanya, hingga Tristan menyadari darah keluar dari mulutnya,dengan
sigap tanganya langsung menadahi sehingga tidak jatuh ke tubuh Bintang.
Namun
ternyata yang di lakukan Tristan sia sia, semakin banyak darah yang keluar,
bahkan perut bagian kananya terasa sangat sakit, hingga akhirnya Bintangpun
menyadari ketika Tangan Tristan tak lagi memeluknya.
“
Ya Tuhan, Tristan.” Ucap Bintang sambil mengelap darah yang keluar dari mulut
Tristan dengan Tisu.Iapun langsung mencari – cari Obat yang biasa di minum
Tristan.
“
Obat kamu dimana Tris.” Lanjut Bintang
dengan panik, air mata langsung mengalir di kedua pipinya.
Tristan menggenggam erat tangan Bintang
yang gemetar, meski dalam rasa sakitnya.
“
Bin, Tetaplah jadi Bintang yang bisa menyinari kehidupan orang lain, aku sayang
sama kamu, aku bahagia bisa mengenalmu, terima kasih atas kesempurnaan yang
kamu ajarkan dalam hidupku, terimakasih atas waktu yang kamu beri padaku dari
kebahagiaanmu, dan kamu harus ingat tak akan ada kebahagiaan jika tak ada
kesedihan.” Ucap Tristan sambil tersenyum.
“
Enggak Tristan, kamu nggak boleh pergi.”
Genggaman Tristan semakin melemah, untuk
yang terakhir kalinya Tristan mencium kening Bintang sebelum
akhirnyamengehembuskan nafas terakhir.
* * *
‘ Dari setiap langkahku, aku tahu bahwa
kau masih disini bersamaku, menjagaku dimanapun aku berada, Tristan saat ini
aku benar-benar bahagia, bukan karena kau pergi meninggalkanku, melainkan
karena akhirnya aku bisa melepasmu dengan ikhlas, inilah kebahagiaanku yang
sederhana dalam keterbatasanku’



No comments:
Post a Comment