Karena Allah Tidak Pernah Melupakanmu








“ Sebuah kata sederhana yang mungkin sulit di ucapkan kepada seorang laki-laki yang bahkan tidak pernah menyakitimu, untuk seorang laki-laki yang memiliki senyum sehangat sinar matahari.”
Aku tidak pernah menyangka, Tuhan merencanakan hidupku sedemikian dahsyatnya. Sebuah rahasia terindah yang Dia rencanakan untukku. Sambil tersenyum bahagia, aku tatap wajah-wajah penuh semangat di depanku, tepukkan tangan mereka, dan pandangan kagum mereka.
Tapi, ada satu orang yang sedang ku tunggu. Dia yang mengantarkanku pada mimpi yang semula ku anggap mustahil, aku memejamkan mataku sesaat, berharap jika dia benar-benar datang di acara bedah buku perdanaku kali ini.
Seorang laki-laki bertubuh kurus dan berkemeja putih mengalihkan pandanganku ketika aku membuka mata kembali, senyumku mengembang tatkala dia tersenyum dan melambai kearahku.
* * *
Jakarta, Januari 1995
Hujan deras di malam hari bulan itu terdengar sangat menakutkan, cahaya kilat dan suara petir yang bergemuruh terdengar sampai ke penjuru kota Jakarta, bahkan sampai ke sudut-sudut rumah sakit. Seorang wanita paruh baya memeperjuangkan hidupnya di kasur rumah sakit, memohon dan berharap seandainya dia tidak bisa selamat hari ini, setidaknya bayi yang sedang di lahirkannya akan selamat dan tumbuh dengan sehat.
            Dari luar ruangan tepat di depan pintu, laki-laki bertubuh kurus dan gagah itu sedang harap-harap cemas menanti kelahiran buah cintanya, hingga seorang dokter datang menghampirinya.
            Laki-laki bertubuh kurus langsung menengadahkan kepalanya ke langit-langit rumah sakit ketika dokter mengatakan sesuatu kepadanya, laki-laki itu langsung masuk ke ruangan dan melihat seorang bayi mungil nan cantik di gendong oleh suster. Namun, air matanya meleleh ketika ia melihat wajah istrinya yang cantik dengan mata terpejam, meski sedikit getir ia tetap tersenyum saat mengalihkan pandangannya pada bayi cantik dalam gendongannya itu.
            “ Arissa Izz Zahra, nama untukmu sayang, ayah ingin kamu jadi anak yang kuat namun tetap indah seperti bunga.” Ucap laki-laki itu.
            Laki-laki itu mengusap air matanya dan membawa Arissa keluar ruangan, ia menghadapkan tubuhnya ke kaca dan menempelkan tangan putrinya disana, sambil memejamkan matanya ia berkata.
            “ Meskipun hidup itu dingin seperti kaca yang sedang kau pegang sekarang, Tuhan selalu menyiapkan kehangatan setelahnya.” Dia mengusap air matanya lagi dan memandang lurus ke luar jendela.
* * *
            Satu hal yang ku tahu dari hidup ini adalah hidup itu keras dan dingin. Dan satu hal lainnya yang sangat sulit ku mengerti adalah untuk apa tuhan menghadirkanku dalam hidup ayah dengan mengambil ibu, satu-satunya wanita yang bisa membuat ayah tersenyum. kini sudah 5 tahun berselang sejak ibu pergi meninggalkan ayah.
            Dari balik jendela pintu kamar, aku melihat ayah sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk kami. Dia menggoreng telur dadar ke sukaanku, susu cokelat manis favoritku dan sebuah ucapan Selamat pagi yang bahkan tidak pernah bisa ku jawab.
            Dengan senyum hangatnya ia menghampiriku dan mengajakku sarapan bersama.
            “ Arissa, ayo kita sarapan, hari ini hari pertama kamu masuk sekolah kan?.” Ucapnya dengan lembut.
            Aku masih terdiam. Hari pertama sekolah, tidak pernah terpikirkan olehku jika aku akan sekolah seperti anak-anak lain, yang aku tahu dari duniaku, aku berbeda. Aku tidak bisa berbicara seperti mereka berbicara, aku tidak bisa mengekspresikan keinginanku seperti mereka, dan aku tidak punya ibu seperti mereka.
            “ Arissa, ayo sayang…” ucap ayah lagi.
Meski dengan sedikit enggan, aku menghampiri ayah dan duduk berhadapan dengannya. Ia mengambilkan nasi ke piringku dan menaruh telur diatasnya.
            “ Ayah sudah bicara dengan kepala sekolah di sekolahmu, dia bilang kamu bisa mulai ikut pelajaran hari ini.”
            Aku terdiam dan beranjak dari kursi mengambil selembar kertas dan bolpoint. Dengan huruf layaknya anak yang baru belajar menulis, aku tulis jawabanku dan menyerahkannya pada ayah.
            ‘ Ayah.. aku takut.’
            Ayah tersenyum menatapku setelah ia baca tulisan itu. aku masih ingat ketika pertama dia mengenalkanku pada huruf dan mengajarkanku menulis. Ayah benar-benar tidak percaya jika aku bisa menangkap dengan cepat bahkan hanya berkisar 1 bulan aku sudah bisa menulis sendiri.
              Apa yang kamu takuti?, mereka itu sama sepertimu, mereka punya hidung, punya mulut, dan punya mata seperti kamu, tidak ada yang berbeda.” Ucapnya sambil tersenyum.
            Dan seakan terhipnotis, aku ikut tersenyum padanya. Ayah benar, walaupun hidup itu dingin dan keras, tuhan selalu menitipkan keindahannya dalam hal-hal yang sangat sederhana.
* * *
            Hidupku berubah setelah aku masuk dan belajar di sekolah. Dunia yang semula terlihat sempit di mataku, kali ini terlihat sangat luas. Aku iri pada mereka, aku iri karena setiap pulang sekolah mereka di jemput oleh ibu mereka bahkan dengan mobil-mobil mewah nan mengkilap. Sedangkan aku, hanya sepeda tua dan wajah ayah yang menghiasi hidupku. Hanya ayah yang bisa menjemputku. Aku ingin marah padanya, kenapa dia tidak bekerja seperti orang tua teman-temanku dan membelikan mobil bagus untuk menjemputku. Tapi ayah tidak pernah marah, ayah tidak pernah memukulku meski terkadang aku tidak menghargainya.
            Bahkan ketika aku menangis setelah di ejek teman-teman karena kekuranganku, hanya dia yang bersedia memeluk dan menenangkanku. Entah kenapa, tapi didalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku sangat menyayanginya.
            Dan pagi ini, saat aku hendak berangkat sekolah, ayah kembali menyiapkan dirinya untuk mengantarku. Aku hanya bisa mengangguk dan menurut. Namun, saat aku tiba di sekolah dan ayahku pergi, aku tidak benar-benar masuk ke sekolah. Aku mengikutinya dan menyusul sampai ke pasar tempat dia bekerja.
            Tumpukkan karung-karung berisi beras terlihat sangat berat di mataku. Aku menyaksikan sendiri bagaimana para laki-laki dewasa bekerja dan memindahkan karung-karung beras itu ke dalam gudang. Dan salah satu diantaranya adalah ayah. Setetes air mata itu terjatuh, ketika melihat tubuh kurus ayah memanggul karung beras berukuran besar. Kakiku serasa lemas dan langsung terduduk di atas tanah. Apa yang pernah ku perbuat padanya, apa yang pernah ku ucapkan padanya, aku benar-benar menyesal telah mengatakannya. Dia yang seumur hidupnya hanya berjuang untukku, dia yang seumur hidupnya berusaha tersenyum di depanku, meskipun bebannya sangat berat. Mengurus dan mengasuhku. Tugas yang seharusnya di kerjakan seorang ibu, kini semua teralih kepadanya.
            “ Arissa, kenapa kamu ada disini?.” Ucap ayah yang sudah menyadari keberadaanku.
Aku mengusap air mataku dan langsung memeluknya.
            “ Ayah… maafkan aku, maafkan aku yang tidak pernah menghargai perjuanganmu.” Ucapku dalam hati.
* * *
Aku menekuk kedua lututku sambil memandang kelangit di teras rumah. Melihat gemerlapan bintang-bintang yang berkelip indah. Melihat rembulan yang berwarna ke emasan. Seandainya tuhan memberikan aku kesempatan berbicara, aku akan mengatakan jika aku sangat-sangat mencintainya.
“ Apa yang kamu lakukan di luar sini?.” Ucap seseorang sambil merangkul bahuku dari belakang. Aku tersenyum. dialah ayahku. Ayah hebat yang berjuang keras untukku.
Aku berbalik mentapnya dan tersenyum. berusaha menyampaikan apa yang kurasakan saat ini.
“ Kamu tahu kenapa tuhan menghadirkan bintang di atas sana bersama rembulan?.” Tanya ayah.
Aku menggeleng
“ Karena Allah tidak mau makhluknya merasa kesepian. Sekecil apapun ciptaanya, Allah tidak akan pernah melupakannya.” Ucapan ayah tiba-tiba membuatku mengalihkan perhatian lebih padanya. “ Sama seperti ayah, Ayah tidak pernah kesepian setelah kehilangan ibumu, Karena Allah tidak pernah melupakan ayah dengan menghadirkanmu.”
Aku tersenyum dan langsung memeluknya. Inilah satu-satunya ungkapan cinta yang bisa kuberikan pada ayah.

            “ Arissa, menulislah saat kamu tidak bisa mengungkapkan perasaanmu.” Lanjut ayah. Aku terdiam memandangnya. Kata yang sama dengan yang di ucapkan ayah ketika pertama mengajariku menulis.
* * *
Jakarta, Januari 2015
‘ Ketika Fajar Merekah.’ Inilah buku perdanaku yang akhirnya membawaku pada titik pencapaian impianku. Berkat kata-kata ayah, berkat ucapan ayah dan berkat kerja keras seorang ayah. Kini dia berdiri di hadapanku, bersama pada audiens yang lain. Tersenyum dengan senyum indahnya, dan dengan mata berkaca-kaca atas rasa bahagianya.
Aku menulis beberapa kalimat diatas kertas dan menyerahkannya pada juru bicara di sampingku, aku memintanya untuk memberikan kertas itu pada ayahku. Dan dengan senang hati, ia menuruti keinginanku.
Aku melihat wajahnya dengan penuh tersenyum, bahkan saat ayah membaca suratku, aku melihat air mata kebahagiaan di pipinya, satu kalimat sederhana yang ku tuliskan di kertas itu dan sangat sulit ku ucapkan.
“ Ayah… Aku Mencintaimu…”