Ini adalah kumpulan cerpen terbaru saya yang Insya Allah menjadi satu paket dengan cerita-cerita lainnya dalam serial Birds Of Paradise, seluruh kisah dalam cerita pendek ini mengisahkan tentang kemurnian dan kesucian cinta.
Bagian 1
Cinta Tanpa Sayap
Apa arti sesungguhnya dari kata Cinta? mayoritas orang mungkin akan mengutarakan kalimat kalimat indah tentangnya, ribuan kata puitis untuk menggambarkannya, tetapi tidak dengan Devin, baginya Cinta hanya kalimat pembungkus nafsu agar lebih menarik, cinta hanyalah kemunafikan tanpa akhir dan cinta hanyalah penderitaan yang tertutup kebahagiaan semu.
California, Musim dingin 2014
Pagi itu, salju menghampar dimana-mana, hawa dingin mengigit sampai ketulang, seperti mahasiswa pada umumnya, Devin usai mengerjakan tugas kuliah yang akan dikumpulkan setelah musim dingin berakhir dan kampus kembali aktif. Ia memasang Earphone ke telinga dan mendendangkan lagu-lagu hits sambil memasuki pelataran rumah bergaya klasik.
Hari itu tepat 3 tahun setelah perceraian kedua orang tuanya dan Devin memilih hidup sendiri. Ibunya tinggal di Mexico dengan membawa adik perempuannya sementara sang ayah, sudah hampir 3 bulan Devin tidak datang berkunjung meski tinggal didaerah yang sama.
Namun, mobil mini cooper putih digarasi rumah itu menarik perhatian Devin, pasalnya ia belum dapat informasi kalau sang ayah membeli mobil baru. Ia lantas melepas sepatu di teras dan mengetuk pintu, ada dua sepatu pria di rak, padahal sebelumnya Devin tidak pernah melihat sepatu itu. Tak lama kemudian, seseorang membuka pintu, tubuhnya tinggi, dadanya besar dan otot lengannya besar, Devin tercengang, ia nyaris tidak percaya bahwa pria itu adalah sang ayah. 3 bulan terakhir, ketika mereka saling bertemu, tubuh ayahnya masih biasa -biasa saja.
" Loh kok tumben datang tidak telepon dulu?" ucap ayahnya.
Devin tersenyum " Hanya ingin memberi kejutan" lalu ia masuk diikuti sang ayah, tidak ada yang berbeda sejak terakhir Devin datang, rumah masih dihiasi ornamen kayu dan bingkai-bingkai foto. Lalu seorang pria di ruang tengah membuat pandangan Devin beralih, keningnya berkerut, semua teman-teman sang ayah ia kenal tapi tidak dengan yang satu ini.
Dengan cepat sang ayah mengambil posisi dan berdiri disamping Devin.
" Ah, Devin kenalkan ini Thom, teman baru ayah"
Pria bernama Thom itu bangkit dari sofa dan mengulurkan tangan pada Devin sambil tersenyum aneh, Devin tidak merasa kejanggalan itu, ia hanya terus berfikiran positif.
" Devin" ucapnya ramah.
lalu ayah Devin mendekati Thom dan membisikkan sesuatu di tangannya, Devin hanya memerhatikan dengan wajah getir, tetapi ia tidak peduli, lalu ia duduk dan menyandarkan kepala di sofa, rasanya lelah sekali setelah perjalanan panjang dari perpustakaan California.
" Ayah, apa kau sudah tahu kabar ibu?, dan apa kau juga sudah menanyakan kabar Sarah?, aku belum sempat kesana" tanya Devin.
Tak ada jawaban, ayahnya justru sibuk dengan Thom.
sepertinya memang sedang ada cekcok diantara mereka, dan Thom lalu pergi seolah menyetujui apa yang ayahnya perintahkan namun tidak sampai didengar Devin.
" Maaf Dev, ayah sedang membicarakan pekerjaan tadi, jadi tidak benar-benar mendengarkanmu, kau bertanya apa?"
" Sudahlah lupakan" Devin agak kesal. " Malam ini izinkan aku menginap, udara dingin sekali diluar dan sebentar lagi sudah hampir gelap" Tukasnya.
" Apa? Menginap? Kau tidak bisa memutuskan sesuatu sesukamu begitu!" seru sang ayah agak panik.
Devin menyadari intonasi berbeda dari suara ayahnya.
" Hei... Apakah kau tega membiarkan anakmu pulang malam ditengah udara dingin?, sudah ya aku ambil kamarku yang biasa" Devin berlalu begitu saja, menaiki anak tangga dan masuk kekamar yang pernah ia tempati dulu. dulu ketika keluarganya masih bersama. Devin Rindu sekali saat-saat itu.
Tetapi malam itu, sesuatu yang tak pernah dibayangkan dan di pikirkan, sesuatu yang membuat hidupnya berbalik hancur, sesuatu yang membuat hatinya remuk tak karuan pun terjadi. Ketika Devin melintas didepan kamar sang ayah, dan pintu kamar itu sedikit terbuka, Devin mendengar sesuatu yang janggal, sesuatu yang terdengar seperti lenguhan pria namun ia yakin itu bukan suara ayahnya.
Karena penasaran, Devin pun mendekat dan mengintip dari balik pintu, nyaris saja jantungnya copot, sasuatu yang tidak dapat ia percaya terjadi didepan matanya, secepat itu juga kedua lututnya melemas, matanya merah dan sekujur tubuhnya seperti tengah di lucuti, Ayahnya, ayah yang selama ini ia kenal baik dan tidak pernah berbuat macem-macem tengah bercumbu dengan Thom!, Pria yang siang tadi ia temui di ruang tamu.
Devin hampir tak percaya terlebih ketika sang ayah menciumi tubuh Thom, mereka berdua sama sama menanggalkan pakaian dan.... Devin tak sanggup membayangkan lagi, ia langsung pergi dari depan pintu kamar sang ayah dan masuk kekamarnya sendiri, dalam tangis, Devin sunggu tak menyangka bahwa ayahnya adalah seorang Gay!.
Semenjak peristiwa itu Devin tidak pernah mengunjungi sang ayah lagi, ia malu, ia merasa tubuhnya seperti sudah ditelanjangi didepan umum dan sekarang ia lebih banyak menyendiri, setiap kali ia bergaul dengan Pria, bayangan akan perbuatan sang ayah berseliweran dikepalanya, setiap kali ia dekat dengan wanita, ia merasa menjadi orang munafik, satu pertanyaan besar bertengger dikepalanya, Apakah Cinta memang harus seperti itu?, Seperti Ayahnya dan Thom dan apa yang mereka telah lakukan?.
Devin sudah menceritakan semuanya pada sang ibu dan pergi ke Mexico, dan jawaban mencengakan dari sang ibu justru membuat air mata Devin semakin meleleh, alasan kedua orang tuanya bercerai adalah karena sang ibu sudah tahu atas perbuatan menyimpang sang suami yang terjadi di tengah tengah pernikahan mereka.
" Lalu, Mau sampai kapan kau menyembunyikan diri dari Cinta?" pertanyaan ibunya sontak membuat lamunan Devin terhenti, ia menoleh menatap sang ibu.
" Aku sedang tidak ingin membicarakan itu mom" jawab Devin.
lalu tanpa aba-aba, sang ibu menarik lengan Devin dan mengajaknya ke taman bermain, Devin diam, keduanya saling pandang memandang juga jelas sekali tatapan heran Devin dimata sang ibu.
" Kau pasti bingung kenapa aku membawamu kesini" ucap ibunya. " Perhatikanlah anak-anak yang bermain di taman itu" lanjutnya lagi.
Devin menurut, ia melihat anak-anak bermain diatas tumpukkan salju, orang tua mereka menunggu di kursi kursi pinggir taman bermain sambil mengamati. Ketika satu anak berlari kemudian jatuh, satu orang tua datang membangunkan, mengusap air mata anaknya dan membersihkan lukanya denan tisu kemudian mencium kening sang anak sampai anak itu tersenyum dan ceria kembali lalu bermain bersama teman-temannya lagi. Ada juga anak lain yang bertengkar, dan orang tua mereka sigap menengahi membuat anak-anak itu akur kembali dan bermain bersama.
" Apa yang kau lihat sekarang adalah Cinta yang tulus, apa menurutmu yang digambarkan ayahmu adalah Cinta? hingga kau begitu takut mendatangi cinta itu sendiri?, kau lihat anak - anak itu, orang tua mereka, perlakuan mereka" Jelas sang ibu kemudian melingkarkan tangannya di pinggang Devin.
" Kau sudah dewasa nak, kau harus bisa membedakan mana nafsu dan mana Cinta, Cinta ada untuk saling melengkapi, menolong saat sulit, menghibur saat sedih, Cinta itu datang dan akan meperlakukanmu seperti kau memperlakukan Cinta itu sendiri" lanjut ibunya lagi.
Devin tak bisa berucap apa-apa,
"Kau tahu nak, burung tak akan terbang tanpa sayap, dia tak akan pernah bisa mencari makan, tak akan bisa makan, minum, kemudian mati, dalam hal ini, Cinta itu ibarat burung, laki-laki adalah tubuhnya, dan perempuan adalah sayapnya, kenapa? karena tubuh laki-laki lebih kuat untuk mencari nafkah dan penghidupan sementara perempuan ibarat sayap karena sayap itulah yang akan membantu tubuh burung untuk pergi ketempat tujuan"
Air mata Devin tiba-tiba keluar, ia memeluk erat ibunya dan menangis saat itu juga.
* * *

