“ Every Moment Of Summer ”
Seoul, siapa yang tidak kenal dengan
ibukota Negara ini, pemandangan malam yang cantik dengan cahaya terang dari
lampu gedung pencakar langit di setiap sudutnya. Beberapa barisan kendaraan
bermotor yang sibuk melintas di jalan-jalan utama kota, sampai pada sisa sisa
gumpalan tipis salju yang masih bertaburan di beberapa ruas jalan.
Disisi
jalan sebelah kirilah aku berada. Terjebak dalam aktivitasku sebagai Waitters
di sebuah Caffe bernama Hollys. Caffe bernuansa cokelat muda yang anggun.
Sesekali aku melihat jam di dinding. Sudah pukul 09.00 malam, dan parahnya
lagi, aku masih harus berada disini mengelap kaca jendela yang berdebu. Sesekali aku mengelap keringat di
dahiku, Seoul sekarang tengah memasuki musim semi, dan ini musim semi ketigaku
semenjak pindah dari Indonesia. Kain lap di tanganku juga masih sibuk bergerak
dari kiri kenan dan sebaliknya, membersihkan kaca yang Nampak kusam. Namun,
saat tanganku bergerak ke sisi kanan. Laki-laki itu datang. Berdiri tepat di
depan kaca jendela yang tengah ku bersihkan. Bibir merah mudanya tersenyum
padaku, ini sudah kesekian kalinya ia membuat jantungku berdegup sangat
kencang. Bagaimana tidak, wajahnya yang kharismatik, ditambah dengan mata sipit
khas orang korea dengan tahi lalat kecil di bawah matanya, benar-benar
membuatku terpesona. Dan seakan mempengaruhiku, bibir tipisku mulai
melengkungkan senyum padanya. Kim Joon Suk, dialah laki-laki yang kusebut indah
dibibirku, dan dialah yang terpatri kuat
didalam hatiku.
“Annyeonghaseyo1.”
Ucapnya ramah.
“
Oppa2.” Sahutku sambil keluar dari dalam Caffe dan menghampirinya.
“
Apa kau masih lama?.” Lanjutnya.
“
Tidak, Aku sudah selesai, sebentar aku akan menaruh kain lap dan ember ini ke
dapur.” Secepat kilat aku langsung beralih darinya dan meletakkan semua
perlengkapan melelahkan itu di tempatnya.
Hanya
sekitar lima menit, aku sudah berdiri lagi di hadapanya.
“
Maaf menunggu lama.” Ucapku sambil mengelap keringat didahi dengan punggung
tangan.
Lagi,
dia tersenyum, menarik tanganku dan mengulurkan tangannya untuk mengelap
keringatku.
“
Ay… Kau pasti sangat lelah hari ini, sudah makan malam?.” Tanyanya.
Aku
berusaha keras menaha tawa di bibirku, Ay, dia selalu menyebutku begitu.
“
Ayya, kenapa kau diam saja?.” Lanjutnya.
Dia
selalu memanggil namaku dengan Ayya, nama Indonesiaku, sebenarnya aku sudah
memberitahu dan memintanya memanggilku dengan Cha Hee Sun, namun ia bilang
lebih tertarik menyebutku dengan Ayya, meskipun logat bicaranya hampir
membuatku selalu tertawa.
“
Tidak, aku belum makan malam.” Jawabku.
“
Baguslah, ayooo.”
Joon
Suk menarik tanganku dengan cepat, aku
hanya terdiam merasakan kehangatan genggaman tangannya yang besar dan gagah. Tidak
perduli sepadat apapun rutinitasku dan selelah apapun tubuhku, saat dia hadir,
dan saat dia menampakkan wajahnya di depanku, aku selalu ingin tersenyum.
*
* *
Namsan Tower, sudah sangat lama aku
bermimpi datang kesana bersama Joon Suk. Meski dari kejauhan, Menara setinggi
236 meter itu masih terlihat dari tempat kami berdiri saat ini di atas jembatan
sungai Hangang. Menara tinggi itu juga sering di kunjungi para turis yang
datang untuk menghabiskan liburan mereka, atau hanya sekedar menggantung gembok
cinta bagi para pasangan yang sedang kasmaran pada tiang-tiang di sekitar
menara. Sesekali Joon Suk mengelus rambutku sambil menatap lurus kearah menara.
“ Oppa.” Panggilku.
“ Hmm.”
“ Sudah dua tahun kita bersama, tapi
tidak sekalipun kau bilang ‘Aku sayang
padamu’ atau ‘Aku cinta padamu’
aku ingin sekali mendengarnya dari mulutmu.”
Joon Suk tertawa singkat. Sudah
kuduga, kata-kata itu tidak akan mudah keluar dari bibirnya.
“ Walaupun aku tidak pernah berkata
seperti itu, kau masih tetap dan akan tetap menjadi kekasihku.”
“ Huuuuh…. Kau tidak pernah berhasil
membuatku marah.” Ucapku sambil menghela nafas sejenak. Ia tersenyum dan
melanjutkan.
“ Saat musim panas tiba, ada yang ingin
ku sampaikan padamu.”
“ Musim panas? Kenapa tidak kau
katakan sekarang saja? Masih beberapa bulan lagi saat musim panas tiba.”
“ Sabar Chagiya3, aku tidak bisa berjanji banyak hal padamu,
tapi aku akan berusaha yang terbaik untukmu, sekarang, kita pulang ini sudah
larut malam.”
Aku mengangguk dan mengikuti
langkahnya. Sebuah kesederhanaan dalam hidupku adalah saat aku jatuh cinta
kepadanya. Laki-laki istimewa yang selalu membuatku jatuh cinta setiap hari.
*
* *
‘PLAK….’ Aku membanting tubuhku di
atas kasur kamar tidurku. Disinilah aku tinggal sebuah flat sederhana berlantai
dua. Meskipun tidak mewah, aku benar-benar nyaman tinggal disini, lantai
kayunya terasa hangat terlebih ketika musim panas tiba, di tambah dengan
jendela kecil di sudut kamar, aku bisa membukanya sesekali, menghirup udara
segar ketika jenuh dan setres melanda isi kepalaku, ketika matahari terbit
pertama kalinya saat musim dingin pergi, aku juga bisa melihatnya, betapa
indahnya pemandangan itu.
Aku membalik tubuhku dan menatap ke langit-langit
kamar. ‘tuk..tuk…tuk’ suara itulagi. Suara sepatu yang sangat akrab ku dengar.
Segera aku bangun dari posisiku dan mengalihkan pandangan pada engsel pintu,
sambil menghitung dalam hati dan BLAAAR….
Seketika pintu terbuka.
“Annyeonghaseyo Hee Sun…..”
seorang gadis cantik berambut cokelat muncul dari balik pintu. Sudah ku duga
itu pasti dia. Kedua tangannya memegang dua kantong belanjaan dan ekspresi
wajahnya, ya tuhan.. dia benar-benar bahagia.
Seketika itu juga dia berlari
kearahku dan memelukku
“ Hee Sun.. aku benar-benar bahagia
malam ini, lihatlah ..” serunya sambil mengeluarkan beberapa setelan baju dan
high heels dari kantong belanjaanya.
“ Kang Min Ah… Sudah ku bilang kau
jangan meminta apapun dari pacarmu, kau bisa di anggap … ah sudahlah.” Jawabku
sambil menepuk dahi. Meskipun dia sahabatku, tetapi tingkahnya kadang sulit di
mengerti.
“ Aku tidak memintanya, dia yang
menawarkan dan membelikannya untukku. Kau sendiri, bagaimana dengan Joon Suk?
Aku tidak pernah melihatmu memakai barang pemberian darinya, atau jangan-jangan
dia tidak pernah memberikanmu apapun.” Selidiknya, demi apapun, aku paling
benci ekspresi wajahnya saat menyelidikiku.
“ Dia, memberikanku sesuatu yang
tidak ternilai harganya.” Jawabku sambil tersenyum padanya.
“ Oh iya, Apa? Beri tahu aku.”
“ Min Ah, kau tahu, Cinta itu bukan
dari seberapa besar barang yang kau terima darinya, tapi….” Aku jeda sejenak
dan menerawang jauh ketika bersamanya “ saat kau di dekatnya, kau selalu merasa
tenang, saat kau bersamanya, kau selalu ingin tersenyum, dan kau tidak akan
pernah berhenti mengingatnya.” Lanjutku.
Min Ah terdiam. Ia menatapku lekat
“ Satu hal yang aku tahu bahwa,
Cinta itu Sederhana.” Ucapku sambil menarik selimut dan kembali merebahkan
tubuhku. Min Ah langsung menggangguku dengan menarik-narik selimut dan
menggoyangkan tubuhku. Aku tidak perduli, aku hanya sedikit tersenyum tanpa
menghiraukannya.
*
* *
Sejuknya udara pagi ini menambah
daftar semangatku untuk pergi bekerja. Saat ku langkahkan kakiku keluar dari
Flat, bunga-bunga sakura yang berbaris hampir di setiap sisi jalan seolah
menyapaku, mereka mulai bermekaran setelah cukup lama tertidur dalam musim
dingin. Aku menghirup udara sekuat-kuatnya sambil memejamkan mata. Udara yang
sangat segar, tidak terlalu dingin namun tidak juga terlalu hangat. Musim semi
memang selalu spesial bagiku.
Kembali ku ayunkan langkahku menuju
halte Bis. Beberapa kendaraan dan pejalan kaki hilir mudik di sampingku.
sesekali aku menguap, nyatanya tidurku semalam belum cukup nyenyak. aku berdiri
di antara barisan orang-orang di halte. Tas mungil yang ku gandeng di sebelah
kananku tidak pernah tertinggal, di sinilah aku menaruh ponsel, dan beberapa
alat make up. Sampai tiba-tiba aku rasakan ponselku bergetar. segera ku rogoh
tas kecil milikku dan melihat sederet huruf dilayar ponsel. Astaga…. ini telpon
dari Joon Suk.
“ Annyeonghaseyo, Oppa..!” Seruku
kegirangan begitu mengangkat ponsel.
Masih tak ada jawaban, aku mengulang
kalimatku lagi, namun suara berat seseorang dari seberang telpon membuatku
mengerutkan dahiku. Aku terdiam cukup lama, sampai orang itu mengatakan hal yang
membuat duniaku berhenti. Seketika itu juga air hangat dari kedua kelopak
mataku terjatuh. Tanpa kusadari, ponsel yang semula kugenggam erat disamping
telingaku ikut terjatuh.
“ Oppa.” gumamku pelan dalam
setengah sadar. Dunia di sekitarku mendadak hening. Seperti tidak merasakan
kakiku sendiri, aku berlari sekencang mungkin menuju rumah sakit tempat Oppa berada.
‘Choen Yoel Hospital’ begitulah tulisan yang ku baca di
depan rumah sakit. kakiku masih tidak berhenti berlari menusuri koridor demi
koridor. sesekali aku intip ruangan-ruangan di sana, berharap Joon Suk ada
disalah satu ruangan itu. begitu tiba di depan ruangan 401 kakiku sudah terasa
lemas, aku bersandar dibalik kaca jendelanya, dan menarik nafas sekuat-kuatnya.
Aku berbalik menghadap kaca, saat itulah ku rasakan kedua kakiku melemas, saat
ku lihat wajah laki-laki didalam ruangan itu. kini air mata yang semula masih
bisa ku bendung, jatuh begitu saja. Hatiku masih tidak percaya dengan yang
kulihat, secara perlahan aku mendekat, membuka pintu ruangan dan melihat dengan
jelas laki-laki yang terbaring lemah diatas kasur. itu benar-benar Joon Suk.
seorang Dokter dan beberapa perawat lain sibuk mengobati luka di wajah Joon
Suk. Aku masih berdiri terdiam, sampai seorang suster menarik lenganku dan
mengajakku keluar. Aku tak melawan, hanya sebuah harapan yang muncul di hatiku
Berharap ini hanyalah sebuah mimpi.
Sambil membenamkan wajahku diantara
kedua lutut yang kutekuk, aku terduduk di lantai. Suara langkah dua orang yang
mendekat kearahku, membuatku kembali mengangkat wajah. mereka kedua orang tua
Joon Suk. Segera aku berdiri dan menghadap keduanya, Namun…
“ Plak…” ku rasakan tangan itu
mendarat keras di pipiku.
Aku terhenyak. Pukulan itu, benarkah
di tujukan untukku?.
“
Sudah kukatakan berkali-kali untuk menjauhi Joon Suk! Kenapa kau tidak pernah
mendengarkan ?!, Jika bukan karena kau, Joon Suk tidak akan kecelakaan, Seumur
hidupku aku tidak akan pernah merestui hubungan kalian.” Ucap Ibu Joon Suk
lantang padaku. aku tidak menjawab, sebuah ekspresi yang kulihat darinya,
membuatku mengerti, betapa takutnya ia kehilangan Joon Suk.
* * *
“ Melihat kondisi Joon Suk yang
seperti ini, saya tidak yakin dia akan bertahan jika alat alat medis itu
dilepaskan.” Sayup-sayup kudengar ucapan dokter yang memeriksa Joon Suk dari
luar ruangan kepada kedua orang tuanya. Aku trediam mematung, lagi-lagi air
mataku meleleh, Tidak… Tidak mungkin Joon Suk seperti itu, aku yakin dia akan
sadar.
‘Tuhan, apapun yang terjadi ku mohon.. ku mohon… selamatkan
Oppa.’
ucapku dalam hati sambil menahan suara tangisku.
‘Blar..’ Pintu ruangan terbuka
keras, ibu Joon Suk keluar dengan derai tangis di wajahnya ia pergi begitu
saja, di susul dengan sang ayah. Segera aku tarik tangannya dan menghentikannya
menyusul ibu Joon Suk.
“
Aboji4, yang di
katakan dokter itu salahkan?, Oppa tidak mungkin hanya bertahan dengan
alat-alat medis itu kan.” ucapku.
“ Apa yang terjadi dengan Joon Suk?,
sebelum kecelakaan ini kau sedang bersamanya bukan?.” jawabnya membatku
terdiam.
Belum sempat ku jawab, dia langsung
pergi dan mengabaikanku. Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi,
bagaimana bisa ayahnya mengatakan jika Joon Suk sedang bersamaku sebelum
kejadian ini.
Aku menerawang dari balik kaca,
menempelkan tanganku disana dan melihat wajah Joon Sook yang tertidur pulas. “
Oppa.. Bangunlah.”
*
* *
Tidak terasa, musim semi telah
berlalu, kini matahari telah benar-benar bersinar tanpa ragu. Pohon Pohon yang
semula masih bermalas-malasan menampakkan daunya, kini telah
tumbuh seperti biasa. kicauan
bung-burung penyambut pagi juga sudah memulai aktivitasnya kembali. Hanya aku,
hanya aku yang merasa musim panas kali ini bagaikan musim dingin tak berujung.
Setiap pagi, aku berharap bisa melihat senyuman hangat itu, dan merasakan
genggaman hangat tangannya lagi. Tetapi, mungkin semua itu hanyalah harapan
tanpa kepastian, saat aku datang ke rumah sakit, aku masih melihat laki-laki
itu terbaring tidak sadarkan diri dengan banyak peralatan medis di tubuhnya.
Hanya sebuah kaca jendela tebal di depan ruangan Joon Suk yang menjadi
prantaraku berbicara dengannya. Kedua orang tua Joon Suk masih menganggap
akulah penyebab kecelakaan ini.
Aku
menghela nafasku berkali-kali. Seperti biasa, mengelap kaca jendela di Kafe
tempatku bekerja, saat aku mengeserkan lap pada kaca jendela, ingatan itu
membawaku kembali pada Joon Suk. betapa seringnya ia muncul tiba-tiba dibalik
kaca yang sedang ku bersihkan, menyubit pipiku dan menggenggam tanganku.
Tatapanku
masih kosong memandang keluar jendela. Beberapa orang hilir mudik bersama pasangannya.
Jika waktu bisa kuputar kembali, aku tidak pernah ingin berhenti saat aku
bersamanya.Setetes, dua tetes air mata itu kembali terjatuh, aku buru-buru
mengelapnya sebelum ada yang menyadari aku menangis. Entahlah, apa yang membuat
harapanku terbang begitu jauh, Aku menanti janjinya untuk mengatakan sesuatu
padaku saat musim panas tiba.
“
Kau tidak bisa hidup seperti ini terus Hee Sun.” suara lembut itu memecah
keheninganku. aku menoleh dan melihat Min Ah berdiri di belakangku.
“
Kau harus menjalani hidupmu seperti biasa.” lanjutnya lagi, aku masih tak
menjawab. sampai dia menarik lenganku dan mengajakku duduk.
“
Sudahlah jelaskan kepada kedua orang tua Joon Suk, jika kecelakaan itu bukan
karena kau, kau tidak tahu menahu soal kejadian itu.”
“
Biarkan saja, yang ku khawatirkan... bagaimana jika kedua orang tua Oppa
menyerah dan melepas alat medis itu?, hanya itu satu-satunya harapan agar Oppa
tetap hidup.” jawabku lemah. Lagi, aku menangis dihadapan Min Ah, dan punggung
lembutnya selalu bersedia menopang kepalaku saat aku sudah tidak mampu
mengangkatnya lagi.
* * *
Berat
sekali kulangkahkan kaki ini, meninggalkan rumah sakit tempat Joon Suk dirawat.
wajahnya yang diam tanpa ekspresi membuatku sadar untuk menguatkan diri jika
kemungkinan terburuk akan terjadi. Ku atur nafasku berulang kali, masih
terngiang ucapan kedua orang tua Joon Suk dengan dokter perihal pelepasan alat
bantu medis di tubuh Joon Suk.
Sambil
memasukkan tanganku ke saku jaket aku berjalan, menuju danau tak jauh dari
rumah sakit. Ah.. aku masih ingat saat itu, Ketika aku sakit dan Joon Suk
mengajakku ke tempat ini, dia benar-benar membuatku lupa akan sakitku.
Kembali
aku memegang wajahku, lagi, air mata itu kembali terjatuh, aku mengelapnya
segera. Bunga sakura yang kulihat di pinggir danau seakan membuatku hangat
kembali. Ini benar, musim panas sudah tiba, Tapi Joon Suk belum mengatakan hal
yang ingin dikatakannya padaku. Ku pejamkan mataku sesaat, dan meletakan salah
satu tanganku pada batang pohon Sakura, kurasakan hembusan angin yang bertiup
kearahku, meniup rambutku yang tergerai dan meniup lembut pipiku.
“
Ayya….” Aku tersentak, suara itu sayup sayup ku dengar, aku membuka mataku
kembali.
“
Ayya….” Lagi, suara itu kembali memanggilku, kali ini lebih jelas, segera aku berbalik
arah. Melihat sesosok laki-laki yang sangat ku rindukan. Dia tersenyum indah
padaku dan berdiri tegak menatapku, Air mataku kembali terjatuh, di ikuti
dengan lengkungan indah disudut bibirku, tanpa kusadari, aku berlari kearahnya
dan memeluknya, merasakan dekapan hangat dirinya lagi.
“
Oppa….” lirihku memanggilnya.
“
Maafkan aku membuatmu menunggu terlalu lama, Ayya.” jawabnya sambil menepuk
nepuk bahuku berusaha menenangkan isakan tangisku.
“
Apa yang terjadi padamu Oppa?.” tanyaku melepaskan pelukan darinya, ku tatap
wajahnya.
“
Kau tidak akan pergi lagi kan?, kau akan tetap di sisiku kan.” lanjutku.
Joon
Suk tersenyum, kedua tanganya meraih wajahku, meletakkannya di pipi ku.
“
Sarang hae5, Cha Hee Sun.”
Aku
terdiam, Kata-kata itu, sudah sangat lama aku menantinya, Joon Suk melanjutkan,
ia merogoh celananya dan mengambil kotak hitam dari saku celananya.
“ Sebenarnya, sebelum kecelakaan
itu, aku ingin memberikan Cincin ini padamu, Orang tuaku melarangku pergi,
karena saat itu kondisiku sedang tidak baik, tapi… aku hanya ingin membuktikan
kalau aku benar-benar mencintaimu.”
“
Oppa….” gumamku.
Joon
Suk mengelap air mata di pipiku dengan tangannya, ia memakaikan cincin itu
dijari manisku, entah aku tidak tahu apa yang harus ku katakan, tapi aku
benar-benar sangat bahagia.
“
Ayya, aku berjanji akan mengatakan sesuatu saat musim panas tiba padamu
bukan?.”
Aku
mengangguk
“
Aku ingin kau menjalani hidupmu seperti sebelumnya, tersenyumlah dan cerialah
seperti kau yang pernah aku kenal.”
“
Apa maksudmu Oppa, Kau tidak akan pergi lagi bukan? kita akan bersama kembali
kan.”
Joon
Suk menggeleng, kali ini air matanya yang mentes, ia mengeggam jariku erat, dan
melepaskan cincin yang sebelumnya ia pakaikan di jari manisku.
“
Apa yang kau lakukan Oppa….” belum sempat ku lerai, ia melemperkan cincin itu
ke danau.
“
Uijima6, Aku ingin kau menjalani hidupmu
seperti biasa, Izinkan aku pergi.”
“ Kajima7 Oppa, Kajima…” lirihku berkali kali, aku
menggenggam tangannya erat, sementara ia berusaha melepaskannya.
Semakin
keras kutahan tangannya, semakin keras pula ia melepaskannya dariku, aku sudah
tidak bisa menggenggamnya lagi, Joon Suk berjalan membelakangiku dan menghilang
bersama angin yang bertiup.
Aku
hanya bisa terdiam, menangis dan merasakan kedua lututku lemas, namun, nulariku
masih tidak menyerah, aku berlari sekencang-kencangnya menuju rumah sakit,
berharap Oppa sudah tiba disana. Namun,
harapanku seakan musnah begitu kulihat kedua orang tua Joon Suk menangis
didepan kamar Joon Suk. aku tahu, kehadiranku pasti di tolak oleh mereka, tapi
itu semua tidak membuatku takut untuk mendekat.
“Eommonim8, Aboji9….”
ucapku pelan.
mereka menoleh padaku dan menatapku
lekat. Ibu Joon Suk tiba-tiba memelukku dan menangis saat itu juga
“
Hee Sun Ah… maafkan kami, kami telah
membenci orang yang salah, maafkan kami atas perlakuan kasar kami padamu.”
Kata-kata
itu membuatku terdiam, Apa yang terjadi pada mereka sampai bisa berubah seperti
ini.
“
Joon Suk datang kepada kami, dan menjelaskan semuanya tentang kecelakaan itu,
aku benar-benar minta maaf karena telah memukulmu.” lanjutnya lagi sambil
melepaskan pelukannya dari tubuhku.
“ Joon Suk menemui kalian??,
sekarang dimana dia ?, Joon Suk benar-benar sudah sadar kan?.”
“
Joon Suk… Joon Suk meminta kami untuk melepaskan alat medis itu dari tubuhnya,
dia hanya ingin menemui kami dan meminta izin untuk pergi.”
“
A..ap..apaa?, jadi maksud kalian sekarang Joon Suk?....” aku tidak sanggup
melanjutkan kata-kata aku lagi, kedua kakiku serasa lemas, dan aku terjatuh
saat itu juga, Joon Suk benar-benar sudah pergi….
* * *
Apa yang akan kamu lakukan saat
orang yang kamu sayangi pergi dan tidak akan kembali?, Sedih? Menangis? Kecewa
atau justru marah?. Tapi aku tidak melakukan semua itu, ya, aku memang pernah
bersedih dan menangis saat pertama Joon Suk menghilang dari duniaku, setiap
kali aku ingat kenangan tentangnya, air mata ku tidak pernah berhenti keluar,
tapi disinilah aku, aku berusaha ikhlas menerima kepergiannya, di saat yang
spesial, di moment yang berharga, di musim yang indah, aku kehilanganya saat
musim panas tiba, kehilangan kehangatan setelah musim dingin.
Aku berusaha tersenyum, berusaha
ceria menjalani hidupku seperti yang pernah Joon Suk katakan, Kini sudah satu
bulan semenjak kepergian Joon Suk, hari - hariku memang sepi tanpanya, tapi itu
semua tidak menjadikanku kehilangan duniaku.
Aku
tersenyum ketika matahari bersinar dipagi hari, melangkahkan kakiku ke Caffe,
bekerja seperti biasa, mengucapkan ‘Annyeonghaseyo,
atau sekedar mengucapkan selemat menikmati hidangan kami.’ kepada para
pelanggan. Sekali lagi, aku tetap berusaha menjalani hariku. Aku melihat keluar
jendela, kudapati seorang gadis berjalan kearah ku, dia sahabatku Kang Min Ah,
baru beberapa menit saat aku melihatnya di seberang jalan, kini gadis cantik
itu sudah berada dihadapanku.
“
Aku senang melihat senyummu pagi ini Hee Sun.” ucapnya ramah.
“
Joon Suk yang mengajariku, dia yang mengajariku untuk tersenyum saat aku sedang
sedih.” Jawabku sambil tersenyum. “ kau tahu Min Ah, Terkadang Cinta itu memang
indah, Cinta itu memang sangat membuatmu bahagia, dan membuatmu berjuang lebih
dari apapun, menjadikanmu pribadi yang lebih kuat dari yang belum parnah kau
duga, tapi kau tidak bisa melupakan jika
Cinta jugalah yang membuatmu sakit, cinta jugalah yang membuatmu terluka.” Lanjutku.
“
Darimana kau belajar semua itu ?.”
Aku
tersenyum menatapnya “ Cintalah yang telah mengajariku.”
Min Ah tersenyum padaku dan kembali
memelukku dalam dekapan lembutnya. Aku bersyukur, bersyukur telah dipertemukan
dengan orang seperti mereka, Kang Min Ah, dan kau Oppa.
*
* *

No comments:
Post a Comment