Setitik Senja di Pematang Hari #Satu

Aku tak tahu harus memulai tulisan ini dari mana, yang aku tahu, fikiranku selalu mengarah kepadamu. Kamu yang mungkin tak sedikitpun memikirkan diriku, kamu yang selalu asyik dengan duniamu..

Ah...., Rasanya aku seperti wanita yang megharapkan belas kasih dari seorang yang  bahkan tak pernah perduli. telingaku terkadang berdengung tatkala hatiku lelah memikirkanmu. puing-puing hal tentangmu tak pernah berhasil aku petakan. Semua nampak berantakan hingga aku sendiripun jengah.

Aku pernah menyaksikan sunset di tepi pantai, sunset yang dipandang indah sebagian orang, namun terlihat biasa di mataku. Senja dan jingganya langit seolah tak berarti apa-apa. dalam hening fikiranku hanya bergejolak tentangmu.

Aku berbalik, berpaling dari bibir pantai, mengabaikan ombak yang tiada henti menampar terumbu karang. aku melihatmu dari kejauhan, berjalan santai sambil sesekali angin meniup helaian rambutmu. Sedikit senyum tercurah diantara kedua tangan yang sibuk membawa  dua botol minuman dingin, lalu dalam sekejap kau sudah duduk di sampingku.
      " Kamu Cantik." Ucapnya ringan dengan senyum khas yang tak pernah bisa aku lupakan.

Entah, apakah kalimat itu benar-benar di tunjukan untukku atau memang kalimat itu sering kau tunjukkan untuk banyak wanita di luar sana, yang aku tahu, aku selalu berbunga-bunga ketika kau mengucapkannya.

sama seperti manusia pada umumnya, aku tak bisa membaca fikiranmu, tak bisa menebak perasaanmu, aku hanya bisa menerka.

       " Berhentilah menerka nerka perasaan orang lain, begitupun dengan perasaanku, kau tidak pernah tahu bagaimana dirimu didalam hatiku."
sebait kata yang sering dia ucapkan.

Aku hanya bisa diam menatapnya, Haruskah aku percaya dengan kata-kata itu, ataukah percaya pada hatiku sendiri?

No comments:

Post a Comment