Indahnya Alam Negeriku


Indonesia adalah Negara kepulauan dengan berbagai macam keindahan alamnya, mulai dari barisan bukit-bukit, gunung-gunung besar yang menjulang tinggi, sampai pada hamparan lautan luas yang membentang mengelilingi pulau-pulaunya.
sebuah nikmat Tuhan yang tiada tandingannya, sebuah ciptaan Tuhan yang tiada seorangpun dapat menyainginya. Aku bersyukur di lahirkan di Negara ini, begitu banyak keindahan, begitu banyak ke istimewaan yang setiap detiknya tidak pernah luput dari pandangan. sejarah telah banyak mencatat bagaimana Negara ini berdiri, perjuangan tanpa pernah putus, perjuangan yang setiap waktu terhembus nafas-nafas semangat tiada henti. sumber daya alam yang melimpah hampir di setiap daerah, membuat Indonesia di juluki 'Surganya Dunia'.

orang bilang, apapun yang kau tancapkan di tanah Indonesia, disanalah sumber kehidupan datang. lihatlah kawan, betapa suburnya tanah negeri ini, betapa berlimpahnya sumber daya alam kita, mulai dari dasar laut, udara, tanah, hingga daratan. cobalah sekali-kali kau menyelam ke dasar laut, disanalah kau akan melihat jutaan spesies hewan laut yang indah dan beraneka ragam, lalu cobalah kau hirup udara di negeri ini, bagaimana angin menyapa lembut dirimu, menghembus sejuk, dan bagaimana pohon-pohon bergerak bagaikan melambaikan tangannya kepadamu. tak cukup pada lautan dan Udara, Indonesia masih memiliki jutaan kekayaan alam di daratannya. aneka macam tumbuhan, tumbuh subur di negeri ini, aneka jenis spesies hidup di daratan dari sabang sampai maraoke. 

beberapa waktu lalu aku sempat Sharing dengan salah satu teman tentang kekayaan alam negeri ini, dia bilang, Negeri kita memang kaya, tapi sayang kebanyakan orang indonesia lebih memilih cara instan, menjual harta kekayaan negeri ini kepada pihak asing, lalu membeli hasil jadinya. sungguh miris bukan?, seandainya kita bisa mengelola sendiri, seandainya, orang-orang di atas lebih percaya kepada generasi generasi bangsa ini, mungkin Indonesia sudah bisa bergerak mandiri tanpa harus berpangku tangan pada 'pihak asing'.

sebenarnya masih banyak keluh kesah tentang negara ini, mengingat bagaiamana keadaan Negeri ini sekarang, dan megingat keadaan Negeri ini ketika jaman Kerajaan berpuluh tahun yang lalu, Kerajaan Sriwijaya, majapahit, dan lain-lain. mereka bisa menunjukkan diri untuk berkuasa, tetapi sekarang kita semua telah bersatu, kenapa rasanya begitu sulit untuk bersatu? membangun negara sendiri? kebanyakan dari kita hanya mengeluh pada sikap 'orang-orang diatas'. padahal sudahkah kita berkaca pada diri kita sendiri?, apa yang telah kita lakukan untuk indonesia?, apa yang sudah kita perbuat untuk negeri ini?. ayolah sobat, jangan banyak mengeluh, tugas kita hanya membuktikan diri dan berjuang untuk indonesia yang lebih baik, mulai dari hal-hal kecil yang bisa kita lakukan, untuk menyelamatkan keindahan alam negeri ini.

 



LANJUTAN " MEMELUK BAYANGMU PART 2 "



Dua


Bayang bayang itu terus melayang di kepala Alan, bahkan sampai sekarang ia masih belum menemukan jawaban hubungan antara sungai yang ia lihat di dalam fikiranya  dengan Alana, tapi ia yakin benar akan terjadi sesuatu pada Alana.
 Sejak jam pelajaran pertama di mulai, Ia sama sekali tak dapat berkonsentrasi, bahkan matanya tetap tertuju pada Alana yang sibuk mencatat apapun yang dijelaskan oleh bu Dewi, guru mereka.
Sampai saatnya jam pulang sekolah tiba, Alan masih belum menemukan jawaban itu, ia hanya terdiam di samping Alana yang terus melangkah agar cepat sampai kerumah. 
“ Kak.” Panggil Alana
“ Hmm…” gumamnya. 
“ Kakak masih berifikir soal itu?.”
Alan mengangguk, Alana memang sering mendapati Alan seserius itu dan terdiam. 
“ Kakak tenang aja, ada tuhan yang melindungiku.” Lanjut Alana.
Tiba-tiba saja Alan menghentikan langkahnya, seberapa sering ia melupakan kehendak tuhan yang sebenarnya, selama ini ia selalu terhanyut akan kejadian yang tiba-tiba melayang di kepalanya. 
Suara gemericik air sungai terdengar begitu menentramkan namun tidak bagi Alan, ia merasa suara air itu sangat menyeramkan, Jalan yang mereka lalui untuk tiba di rumah memang sedikit agak tinggi dari posisi sungai yang berada di bawahnya, Alan melihat sejenak air yang mengalir deras di bawahnya, dan saat itulah gambaran – gambaran jelas dari peristiwa yang akan terjadi terlihat, matanya langsung terbelalak dan memeluk Alana seakan tak ingin melepasnya.
“ Kak, lepaskan aku.” Ucap Alana.

Alan tersadar akan perbuatanya, ia menatap lekat kedua mata Alana.
“ Al, aku mohon kita harus cepat sampai rumah, aku melihat apa yang akan terjadi padamu, dan aku tidak ingin kamu mengalaminya.” Pinta Alan. 
“ Sungai?, aku bukan orang gila yang akan melompat kedasar sungai.” Ucapnya menantang ucapan Alan.
Langkah kakinya semakin cepat menjauhi sikap parno Alan, ia berusaha menepis semua perkataan yang diucapkan alan, sampai tiba-tiba terdengar suatu suara… 
“ Miawww… Miawww.” Suara Kucing itu semakin jelas terdengar di kedua telinganya.
Alana menghentikan langkahnya sejenak.
“ Kamu dengar itu kak?.” Ucapnya. 
Alan berusaha menusuri suara yang di dengar Alana, suasana hening sesaat.

“ Itu hanya suara kucing Al, apa pentingnya, sudah ayo cepat.”

“ Kak, firasaatku mengatakan kalau kucing itu dalam bahaya, ku mohon kak, lihat dimana kucing itu berada.” Pinta Alana dengan wajah serius.
“ Kamu bercanda Al, aku tidak bisa melakukan itu.” 
Alana terdiam, ia segera mencari asal suara kucing itu, sementara Alan berusaha mencegah keinginanya yang keras, dan saat itulah ia dapati seekor anak kucing tersangkut beberapa ranting pohon dan hampir tercebur ke sungai yang begitu deras.
Dengan sigap Alana berusaha menolong anak kucing itu. 
“ Jangan Alana, itu bahaya.” Hadang Alan sambil memegang lengan Alana.
“ Tapi kucing itu dalam bahaya kak, ia bisa terjatuh, induknya pasti mencari dia.” 
“ Kau bicara seakan dia seorang manusia.”
“ Manusia atau bukan, dia makhluk hidup.” Ucap Alana melepaskan diri dari genggaman tangan Alan. 
“ Jangan Al, aku melihat kamu yang akan terbawa arus di sungai itu, dan aku tidak ingin itu terjadi, biarkan anak kucing itu saja yang hanyut.” Teriak Alan. 
Namun Alana tetap tak menggubris, apapun yang terjadi kucing itu harus selamat.
Alan tak mendekat, sejak kecil ia memang trauma dengan Sungai, terlebih arus deras yang hampir menghanyutkan apapun yang terjatuh.
Ia terus memperhatikan Alana yang berusaha untuk melepaskan jeratan ranting dari kaki kucing kecil itu, dan akhirnya.. 
“ Kamu sudah bebas sekarang.” Ucap Alana setelah berhasil melakukan misinya, dan kucing kecil itu langsung berlari begitu kakinya terlepas dari ranting.
“ Ayo Al, biar ku bantu.” Ucap Alan sambil menyulurkan tanganya.
Alana meraih tangan Alan, Namun tiba-tiba ….  
“ Kak…” Teriak Alana saat kakinya terpeleset hendak jatuh ke dalam sungai, ia langsung berpegang  pada akar pohon.
Alan langsung panik, ia berusaha menggapai tangan Alana, dan Hap .. akhirnya ia berhasil. 
“ Jangan lepas Al, pegang tanganku.” Ucap Alan.
“ Aku nggak bisa bertahan lebih lama ka.” Jawab Alana, air matanya menetes, ia tahu jika Alana benar-benar merasa ketakutan. 
“ Bertahan Al, aku akan menarikmu keatas.”
Alan semakin erat menggenggam tangan Alana, namun semakin lama Alana tak sanggup bertahan, tangan mungil dan halus itupun tak sanggup lagi berpegang pada tangan kekar yang selalu menyelamatkanya. 
Tubuhnya mematung, ia tak kuasa lagi membendung air matanya, tanganya gemetar dan waktu seakan berhenti saat itu juga.
“ ALANA ……!!!.” Teriaknya saat ia melihat tubuh Alana terjatuh kesungai, apa yang ia lihat benar-benar sama dengan yang melintas di kepalanya beberapa saat yang lalu, sungai, suara, dan Alana. 
* * *
Dua jam sudah pencarian dimulai, Alana masih belum di temukan, entah kemana Arus sungai membawanya pergi, Alan semakin putus asa, jika saja ia bisa melihat keberadaan Alana di tempat lain, Jika saja ia bisa merubah keadaan, Namun itu hanyalah sebuah harapan yang dimilikinya, Nyatanya kemampuanya hanya terbatas pada selang waktu tertentu dan jarak tertentu.
“ Kamu tidak bisa melihat dimana Alana sekarang Alan.” Tanya Ayahnya yang semakin frustasi mencari keberadaan Alana, sementara sang Ibu hanya menangis menanti kedatangan putri tercintanya. 
“ Aku tidak tahu Ayah.”
Alan tak sanggup menahan air matanya, meski kini kulit wajahnya yang putih bersih dan matanya memerah, Ia tak perduli. 
“ Sebaiknya kamu tunggu di rumah bersama ibumu, Ayah khawatir denganmu Lan.”
“ Tidak ayah, Aku akan terus mencari Alana.” 
“ Ayah mohon, Alana pasti ketemu.” Ucap Ayahnya serius.
Ia hanya bisa menurut kemauan ayahnya, ia yakin Alana pasti ketemu tapi, entah dalam keadaan hidup atau….  
Baru saja Alan menginjakkan kakinya di depan pintu rumah tiba-tiba saja bayangan itu datang lagi, ia melihat seorang gadis berada disuatu tempat tak sadarkan diri, ia tahu persis siapa gadis itu, gambaranya begitu jelas itu pasti
“ ALANA..” Gumamnya. Ia segera berlari dan mencari tempat yang sama dengan yang ada di dalam ingatanya. Pohon pohon, batu besar, dan arus sungai yang lebih tenang. Kali ini, ia bisa melihat keberadaan Alana, namun bukan dengan kemampuan yang dimilikinya, tetapi Alana sendiri yang memberitahunya dengan masuk kedalam fikiranya. 
Entah karena sebab apa, tapi ia yakin jika ikatan batin antara ia dan Alana tak akan terhalang jarak sedikitpun.
Matanya langsung terarah pada seorang gadis yang terbaring diatas batu besar, ia melihat kesekeliling pepohonan yang berbaris rapi dan arus sungai yang tenang, sama persis dengan yang di lihatnya. 
Alan segera menghampiri gadis yang tak sadarkan diri, lagi lagi air matanya menetes saat ia tahu bahwa gadis itu benar-benar Alana. Ia periksa denyut nadinya, sudah tak ada, jantungnya sudah tak berdetak, wajahnya pucat dan dingin kini Alana…
“ ALANA… JANGAN PERGI.” Teriaknya. Teriakan yang sungguh terdengar amat pilu, seorang gadis yang selalu membuatnya tersenyum, memberikanya arti bahwa hidup bukan untuk menyesali apa yang akan terjadi, kini telah pergi. 
* * *

Sebelumnya                                                                                                        Selanjutnya 
   >> Part 1 <<                                                                                                        >> Part 3 <<         
   >> Part 2 <<                                                                                                        >> Part 4 <<  
      
                                       









Memori Uang 2000




Panas terik matahari siang ini terasa begitu menyengat, beberapa kali kendaraan melintas mengepulkan asap-asap hitamnya. Jika bukan karena Adikku, aku tidak akan keluar rumah. Pergi ke pasar hanya untuk membelikannya baju Seragam. Usia adikku sekarang sudah memasuki tujuh tahun, dan besok adalah hari pertamanya masuk sekolah.
Padat dan ramainya suasana pasar sungguh membuatku sumpek. Di tambah lagi dengan jalan  setapak yang becek dan kotor. Aku melangkahkan kakiku memasuki wilayah pasar. Ku cari satu persatu toko baju yang menjual perlengkapan Sekolah. Dan alhasil, satu toko di antara tiga toko baju yang berjajar menjadi sasaranku selanjutnya.
                “ Bu, permisi, ada baju Seragam untuk SD?.” Tanyaku ramah pada ibu penjaga toko yang terlihat masih sibuk dengan salah satu pelanggannya.
                Ibu penjaga toko itu beralih padaku, “ Oh iya tentu, Sebentar saya ambilkan.” Jawabnya langsung berlalu mengambilkan baju Seragam yang aku pesan.
                Sementara Ibu penjaga toko itu mencari, aku perhatikan dua orang anak kecil yang sebelumnya bersama ibu penjaga toko itu beridiri tak jauh dari posisiku sekarang.  Seorang anak Perempuan berusia sekitar 12 tahun, dan satunya lagi anak laki-laki yang mungkin seumuran dengan adikku. Aku tidak tahu pasti apa yang sedang mereka bicarakan sampai terlihat serius begitu, bahkan dari ekspresi wajah anak laki-laki itu terlihat murung. Aku tersenyum singkat dan bergegas menghampiri mereka.
                “ Assalamualaikum, hai.. ada apa?.” Tanyaku pelan sambil sedikit membungkukkan tubuhku dihadapan anak laki-laki itu.
                “ Aku ingin membeli seragam, Tapi...” jawab anak laki-laki itu.
                Aku mengerutkan sedikit alisku dan mengangkat tubuhku, ku alihkan pandanganku pada anak perempuan yang berdiri disamping anak laki-laki itu.
                “ Tapi kenapa?.” Tanyaku lagi.
                Anak perempuan itu menunduk dan melihat beberapa lembar uang yang ia genggam di tangannya.
                “ Uangnya kurang.” Sambung anak laki-laki itu.
                Anak perempuan itu kembali mengangkat wajahnya dan menatap tajam pada adiknya.
                “ Berapa kurangnya biar kakak tambahin ya.” Ucapku hendak mengeluarkan beberapa lembar uang didalam dompetku.
                “ Uangnya kurang 2000, kita udah coba tawar seragamnya tapi tetap nggak bisa kurang.” Jawab anak perempuan itu.
                Aku berhenti sejenak, ku fikir jika membelikan dua baju seragam tidak ada salahnya. Terlebih usia anak itu sama dengan usia adikku. “ Biar kakak yang belikan saja ya, uang itu kalian simpan saja.”
                “ Wah bener kak?.” Ucap anak laki-laki itu dengan tawa sumringah.
                Aku mengangguk. Namun sang kakak justru menyambar tangan adiknya yang hendak mengambil beberapa lembar uang dari tanganku. “ Ibu sudah pesan sama kita kan jangan meminta dari orang lain.” Ucap sang kakak.
                “ Tapi, kalau aku nggak pakai seragam, besok aku nggak bisa sekolah.” Jawab anak itu.
                Aku tersenyum singkat begitu mendengar percakapan mereka. “ Tidak apa-apa, kalau kalian nggak mau kakak belikan, uangnya kakak tambah saja dua ribu ya, jadi kalian bisa beli seragamnya.” saat itulah ibu penjaga toko kembali dan memberikan Seragam sekolah yang aku minta.
                “ Berapa bu harganya?.” Tanyaku.
                “ Empat puluh delapan ribu nak.” Jawabnya.
                Aku menyerahkan uang selembar 50.000 dan ibu itu mengembalikan dua ribu rupiah padaku.
                “ Ini uang 2000nya, kakak nggak keberatan kok, yang penting kamu bisa sekolah besok.” Ucapku pada anak perempuan itu dan memberikan uang 2000 rupiah padanya.
                “ Terimakasih kak.”
                Aku mengangguk dan berlalu pergi dari mereka. seragam sekolah untuk adikku telah siap, tidak sabar rasanya melihat ekspresi wajah bahagia dia begitu melihat seragam barunya.
* * *
                “ Haikal....” teriakku memanggil nama adikku begitu aku sampai di rumah. Rumah sederhana dengan cat tembok berwarna hijau yang menjadi persinggahan aku dan keluarga. Aku lihat jam di dinding pukul 02.00 siang. Rumah masih sepi. Ayahku tentu belum pulang bekerja, sedangkan ibu, pasti masih mengikuti pengajian bulanan di dekat masjid. Aku kembali memanggil nama adikku, namun tak kunjung ada jawaban. Perasaanku mulai tak karuan. aku punya alasan kenapa perasaanku begitu khawatir pada Haikal. Ya, Haikal menderita kelainan jantung bawaan sejak lahir. Aku takut jika sesuatu terjadi padanya.
                Begitu tiba di depan kamar Haikal, aku ketuk pintunya, masih tak ada jawaban. Dengan cepat, aku buka pintu kamarnya dan melihat anak itu terkapar dibawah lantai.
                “ Astaghfirullah.” Ucapku panik langsung berlari mendekatinya.
Aku periksa degupan jantungnya, hembusan nafasnya. Semoga masih belum terlambat. Segera aku hubungi kedua orang tuaku, memintanya agar segera pulang dan membawa Haikal kerumah sakit.
Berkali-kali aku atur nafasku, menenangkan fikiranku. Sudah 30 menit sejak aku dan kedua orang tua membawa Haikal ke rumah sakit, tapi Haikal belum juga sadar. Aku tahu ini salah kami, salah aku dan kedua orang tuaku. Seharusnya Haikal sudah di operasi beberapa tahun yang lalu, tetapi karena memang keadaan ekonomi yang tidak bisa dipaksakan, akhirnya Haikal harus rela menahan sakit begitu serangan itu datang tiba-tiba.
                Bagaimana rasanya menjadi seorang kakak begitu melihat adik yang paling disayanginya menahan sakit?. Terluka ? tentu!, jika saja penyakit itu bisa dipindahkan, biarlah diriku saja yang menanggung. Setetes air mataku jatuh. Berharap jika Haikal akan baik-baik saja.
* * *
15 tahun kemudian....
                Aku bersandar di sofa sambil menonton acara televisi begitu mendengar seseorang mengucapkan salam di depan rumahku. Aku menengok sejenak. Ah, Haikal. Dia sudah pulang rupanya. Aku lihat tubuh tinggi dan wajah putihnya yang tersenyum berseri-seri begitu mendekat kearahku. Dia adik yang tampan. Dan aku beruntung memilikinya. Sambil mencium tanganku dia berkata.
                “ Aku benar-benar lelah hari ini.” ucapnya.
                “ Istirahatlah, aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu.” Jawabku.
                Haikal tersenyum dan berlalu dariku.
                “ Bagaimana dengan jantungmu?, ada masalah lagi?.” Lanjutku.
                Haikal menghentikan laju jalannya dan beralih menatapku “ Aku baik-baik saja.”
Lega rasanya mendengar kalimat itu. Sejujurnya, aku masih tidak begitu percaya melihat kenyataan Haikal masih tersenyum dan menyapaku, dia masih bernafas dan mencium tanganku. Aku masih ingat, kata-kata dokter yang memeriksa Haikal dirumah sakit 15 tahun yang lalu.
                ‘ Saya tidak yakin dengan kondisi Haikal, kondisi jantungnya sangat parah,jika tidak segera di operasi, saya khawatir dia tidak bisa bertahan.’ Ya kira-kira seperti itulah. Tapi kenyataanya... Haikal masih bertahan sekarang, Haikal masih bernafas dan tersenyum sekarang. Cuma Tuhan yang berhak menentukan umur seseorang.
                Mataku masih tak lepas dari tubuh Haikal yang berjalan membelakangiku, sampai tiba-tiba  dia berhenti. aku melihat dia memegang erat dadanya.
                “ Haikal, ada apa?.” Ucapku cemas.
                Haikal menggeleng dan kembali melanjutkan langkahnya, sampai tiba-tiba tubuhnya terjatuh. Aku berteriak histeris dan langsung berlari menghampirinya. Wajah Haikal begitu pucat. Oh tuhan... apa lagi ini.
* * *
                Haikal harus segera di operasi. Aku lemas membaca surat tagihan rumah sakit perawatan Haikal. Belum lagi biaya operasi, semuanya nyaris bernilai puluhan juta. Dari mana aku bisa dapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat. Sementara kedua orang tuaku sudah pasrah. Aku tahu mereka pasti memikirkan biaya yang tidak sedikit. Apa yang harus ku lakukan sekarang. Orang-orang yang berlalu lalang dikoridor rumah sakit sudah tak kuhiraukan lagi, satu-satunya yang ku fikirkan adalah biaya operasi untuk Haikal.
Aku sandarkan tubuhku di kursi tunggu, sampai seorang suster tiba-tiba menyerahkan beberapa lembar kertas padaku. Aku baca dengan teliti, lagi, tagihan rumah sakit. Namun.... alangkah kagetnya aku begitu melihat nominal yang tertera pada surat tersebut, semuanya telah di lunasi. Tapi, oleh siapa?, bahkan biaya operasipun sudah lunas.
                “ Sus, saya belum membayar apapun, tapi kenapa bisa lunas?.” Tanyaku bingung.
                “ Oh tadi ada pesan dari dokter yang memeriksa adik Mba, dia bilang, semua tagihan rumah sakit dia yang akan membayarnya.”
                “ Dokter?, di..dimana dokter itu sus?.”
                “ Dia masih ada pasien, mungkin setengah jam lagi dia baru ada di ruangannya.”
                “ Oh gitu, baik sus, Terimakasih banyak.” Ucapku lega.
Aku tersenyum dan sangat bahagia, satu hal lagi yang harus aku lakukan adalah berterimakasih. Ya, aku harus menunggu dokter itu di depan ruangannya. Semoga, tuhan membalas semua kebaikannya.
                Tiga puluh menit berlalu, dokter itu belum juga datang, sampai seorang laki-laki berpakaian putih berjalan mendekat ke ruang dokter di depanku. Tidak salah lagi, dia pasti dokter itu. Tapi ternyata, wajahnya sungguh berbeda dari bayanganku. Dokter itu masih muda, dan tampan. Tapi sepertinya aku pernah melihat dokter itu sebelumnya. Bukan. Bukan di rumah sakit, tapi di suatu tempat yang sudah sedikit aku lupakan.
                “ Dokter Rahman?.” Tanyaku begitu dia melintas didepanku.
                “ Iya saya, ada yang bisa saya bantu?.” Jawabnya sopan.
                “ Sa.. saya mau mengucapkan terimakasih pada dokter, karena dokter akhirnya adik saya bisa menjalani operasi.” Ucapku.
                Dokter itu tersenyum dan mengajakku masuk ke ruangannya. Aku masih mencoba mengingat dimana bertemu dokter itu sebelumnya. Tapi, ingatanku tetap tidak membukanya. Aku semakin heran begitu tiba-tiba dokter rahman menyodorkan uang dua ribu rupiah di depanku.
                “ Kakak masih ingat dengan uang ini?.” ucapnya lagi.
                Aku mengerutkan dahiku, Kakak?, dokter Rahman memanggilku kakak?, apa mungkin dia pernah bertemu denganku juga?.
                “ Seragam sekolah, uang dua ribu, lima belas tahun yang lalu.” ucapnya lagi.
                Aku terkejut. Ya, aku ingat kejadian itu. Tapi... dokter didepanku ini apakah benar-benar anak laki-laki itu.
                “ kita belum sempat berkenalan, nama kakak siapa?.” Tanyanya lagi dengan ramah.
                “ Sa..saya..Anisa.” jawabku masih setengah tak percaya. “ Saya benar-benar bingung harus bicara apa sama dokter, dan saya juga nggak menyangka jika dokter masih menyimpan memori itu.”
                “ jangan panggil saya begitu, panggil saja Rahman. Mana mungkin saya melupakan memori itu, jika saat itu kakak tidak membantu saya membelikan seragam sekolah, saya tidak akan sekolah dan saya tidak akan jadi dokter, sampai kapanpun memori itu akan saya ingat , saya sebut dengan ‘memori uang dua ribu.’.” ucapnya sambil tersenyum
                Aku terharu. Air mataku yang semula tertahan mulai terjatuh. Selembar uang yang ku fikir tidak terlalu berarti justru kembali dengan jumlah yang tak pernah ku sangka. Pengobatan Haikal, dan kesembuhan Haikal. Tuhan, benar-benar telah menunjukkan kuasanya padaku, melalui selembar uang dua ribu.