Dua
Bayang bayang itu
terus melayang di kepala Alan, bahkan sampai sekarang ia masih belum menemukan
jawaban hubungan antara sungai yang ia lihat di dalam fikiranya dengan Alana, tapi ia yakin benar akan terjadi
sesuatu pada Alana.
Sejak jam pelajaran pertama di mulai, Ia
sama sekali tak dapat berkonsentrasi, bahkan matanya tetap tertuju pada Alana
yang sibuk mencatat apapun yang dijelaskan oleh bu Dewi,
guru mereka.
Sampai
saatnya jam pulang sekolah tiba, Alan masih belum menemukan jawaban itu, ia
hanya terdiam di samping Alana yang terus melangkah agar cepat sampai kerumah.
“ Kak.” Panggil Alana
“ Hmm…” gumamnya.
“ Kakak
masih berifikir soal itu?.”
Alan mengangguk, Alana memang sering
mendapati Alan seserius itu dan terdiam.
“ Kakak tenang aja, ada tuhan yang
melindungiku.” Lanjut Alana.
Tiba-tiba saja Alan menghentikan
langkahnya, seberapa sering ia melupakan kehendak tuhan yang sebenarnya, selama
ini ia selalu terhanyut akan kejadian yang tiba-tiba melayang di kepalanya.
Suara gemericik air sungai terdengar
begitu menentramkan namun tidak bagi Alan, ia merasa suara air itu sangat
menyeramkan,
Jalan yang mereka lalui untuk tiba di rumah memang sedikit agak tinggi dari
posisi sungai yang berada di bawahnya, Alan melihat sejenak air yang mengalir
deras di bawahnya, dan saat itulah gambaran – gambaran jelas dari peristiwa
yang akan terjadi terlihat, matanya langsung terbelalak dan memeluk Alana
seakan tak ingin melepasnya.
“ Kak, lepaskan aku.” Ucap Alana.
Alan tersadar akan perbuatanya, ia
menatap lekat kedua mata Alana.
“ Al, aku mohon kita harus cepat sampai
rumah, aku melihat apa yang akan terjadi padamu, dan aku tidak
ingin kamu mengalaminya.” Pinta Alan.
“ Sungai?, aku bukan orang gila yang
akan melompat kedasar sungai.” Ucapnya menantang ucapan Alan.
Langkah kakinya semakin cepat menjauhi
sikap parno Alan, ia berusaha menepis semua perkataan yang diucapkan alan,
sampai tiba-tiba terdengar suatu suara…
“ Miawww… Miawww.” Suara Kucing itu
semakin jelas terdengar di kedua telinganya.
Alana menghentikan langkahnya sejenak.
“ Kamu
dengar itu kak?.” Ucapnya.
Alan berusaha menusuri suara yang di
dengar Alana, suasana hening sesaat.
“ Itu hanya suara kucing Al, apa
pentingnya, sudah ayo cepat.”
“ Kak, firasaatku mengatakan kalau
kucing itu dalam bahaya, ku mohon kak, lihat dimana kucing itu berada.” Pinta
Alana dengan wajah serius.
“ Kamu
bercanda Al, aku tidak bisa melakukan itu.”
Alana terdiam, ia segera mencari asal
suara kucing itu, sementara Alan berusaha mencegah keinginanya yang keras, dan
saat itulah ia dapati seekor anak kucing tersangkut beberapa ranting pohon dan
hampir tercebur ke sungai yang begitu deras.
Dengan sigap Alana berusaha menolong
anak kucing itu.
“ Jangan Alana, itu bahaya.” Hadang Alan
sambil memegang lengan Alana.
“ Tapi kucing itu dalam bahaya kak, ia
bisa terjatuh, induknya pasti mencari dia.”
“ Kau bicara seakan dia seorang
manusia.”
“ Manusia atau bukan, dia makhluk
hidup.” Ucap Alana melepaskan diri dari genggaman tangan Alan.
“ Jangan Al, aku melihat kamu
yang akan terbawa arus di sungai itu, dan aku tidak
ingin itu terjadi, biarkan anak kucing itu saja yang hanyut.” Teriak Alan.
Namun Alana tetap tak menggubris, apapun
yang terjadi kucing itu harus selamat.
Alan tak mendekat, sejak kecil ia memang
trauma dengan Sungai, terlebih arus deras yang hampir menghanyutkan apapun yang
terjatuh.
Ia terus memperhatikan Alana yang
berusaha untuk melepaskan jeratan ranting dari kaki kucing kecil itu, dan
akhirnya..
“ Kamu
sudah bebas sekarang.” Ucap Alana setelah berhasil melakukan misinya, dan
kucing kecil itu langsung berlari begitu kakinya terlepas dari ranting.
“ Ayo Al, biar ku bantu.” Ucap Alan
sambil menyulurkan tanganya.
Alana meraih tangan Alan, Namun
tiba-tiba ….
“ Kak…” Teriak Alana saat kakinya terpeleset
hendak jatuh ke dalam sungai, ia langsung berpegang pada akar
pohon.
Alan langsung panik, ia berusaha
menggapai tangan Alana, dan Hap .. akhirnya ia berhasil.
“ Jangan lepas Al, pegang tanganku.”
Ucap Alan.
“ Aku nggak bisa bertahan lebih lama ka.”
Jawab Alana, air matanya menetes, ia tahu jika Alana benar-benar merasa
ketakutan.
“ Bertahan Al, aku akan menarikmu
keatas.”
Alan semakin erat menggenggam tangan
Alana, namun semakin lama Alana tak sanggup bertahan, tangan mungil dan halus
itupun tak sanggup lagi berpegang pada tangan kekar yang selalu
menyelamatkanya.
Tubuhnya mematung, ia tak kuasa lagi
membendung air matanya, tanganya gemetar dan waktu seakan berhenti saat itu
juga.
“ ALANA ……!!!.” Teriaknya saat ia
melihat tubuh Alana terjatuh kesungai, apa yang ia lihat benar-benar sama
dengan yang melintas di kepalanya beberapa saat yang lalu, sungai, suara,
dan Alana.
* * *
Dua jam sudah pencarian dimulai, Alana
masih belum di temukan, entah kemana Arus sungai
membawanya pergi, Alan semakin putus asa, jika saja ia bisa melihat keberadaan
Alana di tempat lain, Jika saja ia bisa merubah keadaan, Namun itu hanyalah
sebuah harapan yang dimilikinya, Nyatanya kemampuanya hanya terbatas pada
selang waktu tertentu dan jarak tertentu.
“ Kamu tidak
bisa melihat dimana Alana sekarang Alan.” Tanya
Ayahnya yang semakin frustasi mencari keberadaan Alana, sementara sang Ibu
hanya menangis menanti kedatangan putri tercintanya.
“ Aku tidak
tahu Ayah.”
Alan tak sanggup menahan air matanya,
meski kini kulit wajahnya yang putih bersih dan matanya memerah, Ia tak
perduli.
“ Sebaiknya kamu
tunggu di rumah bersama ibumu, Ayah khawatir denganmu Lan.”
“ Tidak ayah, Aku akan terus mencari
Alana.”
“ Ayah mohon, Alana pasti ketemu.” Ucap
Ayahnya serius.
Ia hanya bisa menurut kemauan ayahnya,
ia yakin Alana pasti ketemu tapi, entah dalam keadaan hidup atau….
Baru saja Alan menginjakkan kakinya di
depan pintu rumah tiba-tiba saja bayangan itu datang lagi, ia melihat seorang
gadis berada disuatu tempat tak sadarkan diri, ia tahu persis siapa gadis itu,
gambaranya begitu jelas itu pasti
“ ALANA..” Gumamnya. Ia segera berlari
dan mencari tempat yang sama dengan yang ada di dalam ingatanya. Pohon pohon,
batu besar, dan arus sungai yang lebih tenang. Kali ini, ia bisa melihat
keberadaan Alana, namun bukan dengan kemampuan yang dimilikinya, tetapi Alana
sendiri yang memberitahunya dengan masuk kedalam fikiranya.
Entah karena sebab apa, tapi ia yakin jika
ikatan batin antara ia dan Alana tak akan terhalang jarak sedikitpun.
Matanya langsung terarah pada seorang
gadis yang terbaring diatas batu besar, ia melihat kesekeliling pepohonan yang
berbaris rapi dan arus sungai yang tenang,
sama persis dengan yang di lihatnya.
Alan segera menghampiri gadis yang tak
sadarkan diri, lagi lagi air matanya menetes saat ia tahu bahwa gadis itu
benar-benar Alana. Ia periksa denyut nadinya, sudah tak ada, jantungnya sudah
tak berdetak, wajahnya pucat dan dingin kini Alana…
“ ALANA… JANGAN PERGI.” Teriaknya.
Teriakan yang sungguh terdengar amat pilu, seorang gadis yang selalu membuatnya
tersenyum, memberikanya arti bahwa hidup bukan untuk menyesali apa yang akan
terjadi, kini telah pergi.
* * *
Sebelumnya Selanjutnya
Sebelumnya Selanjutnya

No comments:
Post a Comment