Memori Uang 2000




Panas terik matahari siang ini terasa begitu menyengat, beberapa kali kendaraan melintas mengepulkan asap-asap hitamnya. Jika bukan karena Adikku, aku tidak akan keluar rumah. Pergi ke pasar hanya untuk membelikannya baju Seragam. Usia adikku sekarang sudah memasuki tujuh tahun, dan besok adalah hari pertamanya masuk sekolah.
Padat dan ramainya suasana pasar sungguh membuatku sumpek. Di tambah lagi dengan jalan  setapak yang becek dan kotor. Aku melangkahkan kakiku memasuki wilayah pasar. Ku cari satu persatu toko baju yang menjual perlengkapan Sekolah. Dan alhasil, satu toko di antara tiga toko baju yang berjajar menjadi sasaranku selanjutnya.
                “ Bu, permisi, ada baju Seragam untuk SD?.” Tanyaku ramah pada ibu penjaga toko yang terlihat masih sibuk dengan salah satu pelanggannya.
                Ibu penjaga toko itu beralih padaku, “ Oh iya tentu, Sebentar saya ambilkan.” Jawabnya langsung berlalu mengambilkan baju Seragam yang aku pesan.
                Sementara Ibu penjaga toko itu mencari, aku perhatikan dua orang anak kecil yang sebelumnya bersama ibu penjaga toko itu beridiri tak jauh dari posisiku sekarang.  Seorang anak Perempuan berusia sekitar 12 tahun, dan satunya lagi anak laki-laki yang mungkin seumuran dengan adikku. Aku tidak tahu pasti apa yang sedang mereka bicarakan sampai terlihat serius begitu, bahkan dari ekspresi wajah anak laki-laki itu terlihat murung. Aku tersenyum singkat dan bergegas menghampiri mereka.
                “ Assalamualaikum, hai.. ada apa?.” Tanyaku pelan sambil sedikit membungkukkan tubuhku dihadapan anak laki-laki itu.
                “ Aku ingin membeli seragam, Tapi...” jawab anak laki-laki itu.
                Aku mengerutkan sedikit alisku dan mengangkat tubuhku, ku alihkan pandanganku pada anak perempuan yang berdiri disamping anak laki-laki itu.
                “ Tapi kenapa?.” Tanyaku lagi.
                Anak perempuan itu menunduk dan melihat beberapa lembar uang yang ia genggam di tangannya.
                “ Uangnya kurang.” Sambung anak laki-laki itu.
                Anak perempuan itu kembali mengangkat wajahnya dan menatap tajam pada adiknya.
                “ Berapa kurangnya biar kakak tambahin ya.” Ucapku hendak mengeluarkan beberapa lembar uang didalam dompetku.
                “ Uangnya kurang 2000, kita udah coba tawar seragamnya tapi tetap nggak bisa kurang.” Jawab anak perempuan itu.
                Aku berhenti sejenak, ku fikir jika membelikan dua baju seragam tidak ada salahnya. Terlebih usia anak itu sama dengan usia adikku. “ Biar kakak yang belikan saja ya, uang itu kalian simpan saja.”
                “ Wah bener kak?.” Ucap anak laki-laki itu dengan tawa sumringah.
                Aku mengangguk. Namun sang kakak justru menyambar tangan adiknya yang hendak mengambil beberapa lembar uang dari tanganku. “ Ibu sudah pesan sama kita kan jangan meminta dari orang lain.” Ucap sang kakak.
                “ Tapi, kalau aku nggak pakai seragam, besok aku nggak bisa sekolah.” Jawab anak itu.
                Aku tersenyum singkat begitu mendengar percakapan mereka. “ Tidak apa-apa, kalau kalian nggak mau kakak belikan, uangnya kakak tambah saja dua ribu ya, jadi kalian bisa beli seragamnya.” saat itulah ibu penjaga toko kembali dan memberikan Seragam sekolah yang aku minta.
                “ Berapa bu harganya?.” Tanyaku.
                “ Empat puluh delapan ribu nak.” Jawabnya.
                Aku menyerahkan uang selembar 50.000 dan ibu itu mengembalikan dua ribu rupiah padaku.
                “ Ini uang 2000nya, kakak nggak keberatan kok, yang penting kamu bisa sekolah besok.” Ucapku pada anak perempuan itu dan memberikan uang 2000 rupiah padanya.
                “ Terimakasih kak.”
                Aku mengangguk dan berlalu pergi dari mereka. seragam sekolah untuk adikku telah siap, tidak sabar rasanya melihat ekspresi wajah bahagia dia begitu melihat seragam barunya.
* * *
                “ Haikal....” teriakku memanggil nama adikku begitu aku sampai di rumah. Rumah sederhana dengan cat tembok berwarna hijau yang menjadi persinggahan aku dan keluarga. Aku lihat jam di dinding pukul 02.00 siang. Rumah masih sepi. Ayahku tentu belum pulang bekerja, sedangkan ibu, pasti masih mengikuti pengajian bulanan di dekat masjid. Aku kembali memanggil nama adikku, namun tak kunjung ada jawaban. Perasaanku mulai tak karuan. aku punya alasan kenapa perasaanku begitu khawatir pada Haikal. Ya, Haikal menderita kelainan jantung bawaan sejak lahir. Aku takut jika sesuatu terjadi padanya.
                Begitu tiba di depan kamar Haikal, aku ketuk pintunya, masih tak ada jawaban. Dengan cepat, aku buka pintu kamarnya dan melihat anak itu terkapar dibawah lantai.
                “ Astaghfirullah.” Ucapku panik langsung berlari mendekatinya.
Aku periksa degupan jantungnya, hembusan nafasnya. Semoga masih belum terlambat. Segera aku hubungi kedua orang tuaku, memintanya agar segera pulang dan membawa Haikal kerumah sakit.
Berkali-kali aku atur nafasku, menenangkan fikiranku. Sudah 30 menit sejak aku dan kedua orang tua membawa Haikal ke rumah sakit, tapi Haikal belum juga sadar. Aku tahu ini salah kami, salah aku dan kedua orang tuaku. Seharusnya Haikal sudah di operasi beberapa tahun yang lalu, tetapi karena memang keadaan ekonomi yang tidak bisa dipaksakan, akhirnya Haikal harus rela menahan sakit begitu serangan itu datang tiba-tiba.
                Bagaimana rasanya menjadi seorang kakak begitu melihat adik yang paling disayanginya menahan sakit?. Terluka ? tentu!, jika saja penyakit itu bisa dipindahkan, biarlah diriku saja yang menanggung. Setetes air mataku jatuh. Berharap jika Haikal akan baik-baik saja.
* * *
15 tahun kemudian....
                Aku bersandar di sofa sambil menonton acara televisi begitu mendengar seseorang mengucapkan salam di depan rumahku. Aku menengok sejenak. Ah, Haikal. Dia sudah pulang rupanya. Aku lihat tubuh tinggi dan wajah putihnya yang tersenyum berseri-seri begitu mendekat kearahku. Dia adik yang tampan. Dan aku beruntung memilikinya. Sambil mencium tanganku dia berkata.
                “ Aku benar-benar lelah hari ini.” ucapnya.
                “ Istirahatlah, aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu.” Jawabku.
                Haikal tersenyum dan berlalu dariku.
                “ Bagaimana dengan jantungmu?, ada masalah lagi?.” Lanjutku.
                Haikal menghentikan laju jalannya dan beralih menatapku “ Aku baik-baik saja.”
Lega rasanya mendengar kalimat itu. Sejujurnya, aku masih tidak begitu percaya melihat kenyataan Haikal masih tersenyum dan menyapaku, dia masih bernafas dan mencium tanganku. Aku masih ingat, kata-kata dokter yang memeriksa Haikal dirumah sakit 15 tahun yang lalu.
                ‘ Saya tidak yakin dengan kondisi Haikal, kondisi jantungnya sangat parah,jika tidak segera di operasi, saya khawatir dia tidak bisa bertahan.’ Ya kira-kira seperti itulah. Tapi kenyataanya... Haikal masih bertahan sekarang, Haikal masih bernafas dan tersenyum sekarang. Cuma Tuhan yang berhak menentukan umur seseorang.
                Mataku masih tak lepas dari tubuh Haikal yang berjalan membelakangiku, sampai tiba-tiba  dia berhenti. aku melihat dia memegang erat dadanya.
                “ Haikal, ada apa?.” Ucapku cemas.
                Haikal menggeleng dan kembali melanjutkan langkahnya, sampai tiba-tiba tubuhnya terjatuh. Aku berteriak histeris dan langsung berlari menghampirinya. Wajah Haikal begitu pucat. Oh tuhan... apa lagi ini.
* * *
                Haikal harus segera di operasi. Aku lemas membaca surat tagihan rumah sakit perawatan Haikal. Belum lagi biaya operasi, semuanya nyaris bernilai puluhan juta. Dari mana aku bisa dapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat. Sementara kedua orang tuaku sudah pasrah. Aku tahu mereka pasti memikirkan biaya yang tidak sedikit. Apa yang harus ku lakukan sekarang. Orang-orang yang berlalu lalang dikoridor rumah sakit sudah tak kuhiraukan lagi, satu-satunya yang ku fikirkan adalah biaya operasi untuk Haikal.
Aku sandarkan tubuhku di kursi tunggu, sampai seorang suster tiba-tiba menyerahkan beberapa lembar kertas padaku. Aku baca dengan teliti, lagi, tagihan rumah sakit. Namun.... alangkah kagetnya aku begitu melihat nominal yang tertera pada surat tersebut, semuanya telah di lunasi. Tapi, oleh siapa?, bahkan biaya operasipun sudah lunas.
                “ Sus, saya belum membayar apapun, tapi kenapa bisa lunas?.” Tanyaku bingung.
                “ Oh tadi ada pesan dari dokter yang memeriksa adik Mba, dia bilang, semua tagihan rumah sakit dia yang akan membayarnya.”
                “ Dokter?, di..dimana dokter itu sus?.”
                “ Dia masih ada pasien, mungkin setengah jam lagi dia baru ada di ruangannya.”
                “ Oh gitu, baik sus, Terimakasih banyak.” Ucapku lega.
Aku tersenyum dan sangat bahagia, satu hal lagi yang harus aku lakukan adalah berterimakasih. Ya, aku harus menunggu dokter itu di depan ruangannya. Semoga, tuhan membalas semua kebaikannya.
                Tiga puluh menit berlalu, dokter itu belum juga datang, sampai seorang laki-laki berpakaian putih berjalan mendekat ke ruang dokter di depanku. Tidak salah lagi, dia pasti dokter itu. Tapi ternyata, wajahnya sungguh berbeda dari bayanganku. Dokter itu masih muda, dan tampan. Tapi sepertinya aku pernah melihat dokter itu sebelumnya. Bukan. Bukan di rumah sakit, tapi di suatu tempat yang sudah sedikit aku lupakan.
                “ Dokter Rahman?.” Tanyaku begitu dia melintas didepanku.
                “ Iya saya, ada yang bisa saya bantu?.” Jawabnya sopan.
                “ Sa.. saya mau mengucapkan terimakasih pada dokter, karena dokter akhirnya adik saya bisa menjalani operasi.” Ucapku.
                Dokter itu tersenyum dan mengajakku masuk ke ruangannya. Aku masih mencoba mengingat dimana bertemu dokter itu sebelumnya. Tapi, ingatanku tetap tidak membukanya. Aku semakin heran begitu tiba-tiba dokter rahman menyodorkan uang dua ribu rupiah di depanku.
                “ Kakak masih ingat dengan uang ini?.” ucapnya lagi.
                Aku mengerutkan dahiku, Kakak?, dokter Rahman memanggilku kakak?, apa mungkin dia pernah bertemu denganku juga?.
                “ Seragam sekolah, uang dua ribu, lima belas tahun yang lalu.” ucapnya lagi.
                Aku terkejut. Ya, aku ingat kejadian itu. Tapi... dokter didepanku ini apakah benar-benar anak laki-laki itu.
                “ kita belum sempat berkenalan, nama kakak siapa?.” Tanyanya lagi dengan ramah.
                “ Sa..saya..Anisa.” jawabku masih setengah tak percaya. “ Saya benar-benar bingung harus bicara apa sama dokter, dan saya juga nggak menyangka jika dokter masih menyimpan memori itu.”
                “ jangan panggil saya begitu, panggil saja Rahman. Mana mungkin saya melupakan memori itu, jika saat itu kakak tidak membantu saya membelikan seragam sekolah, saya tidak akan sekolah dan saya tidak akan jadi dokter, sampai kapanpun memori itu akan saya ingat , saya sebut dengan ‘memori uang dua ribu.’.” ucapnya sambil tersenyum
                Aku terharu. Air mataku yang semula tertahan mulai terjatuh. Selembar uang yang ku fikir tidak terlalu berarti justru kembali dengan jumlah yang tak pernah ku sangka. Pengobatan Haikal, dan kesembuhan Haikal. Tuhan, benar-benar telah menunjukkan kuasanya padaku, melalui selembar uang dua ribu.

No comments:

Post a Comment