Panas terik matahari siang ini
terasa begitu menyengat, beberapa kali kendaraan melintas mengepulkan asap-asap
hitamnya. Jika bukan karena Adikku, aku tidak akan keluar rumah. Pergi ke pasar
hanya untuk membelikannya baju Seragam. Usia adikku sekarang sudah memasuki
tujuh tahun, dan besok adalah hari pertamanya masuk sekolah.
Padat dan ramainya suasana pasar
sungguh membuatku sumpek. Di tambah lagi dengan jalan setapak yang becek dan kotor. Aku melangkahkan
kakiku memasuki wilayah pasar. Ku cari satu persatu toko baju yang menjual
perlengkapan Sekolah. Dan alhasil, satu toko di antara tiga toko baju yang
berjajar menjadi sasaranku selanjutnya.
“
Bu, permisi, ada baju Seragam untuk SD?.” Tanyaku ramah pada ibu penjaga toko
yang terlihat masih sibuk dengan salah satu pelanggannya.
Ibu
penjaga toko itu beralih padaku, “ Oh iya tentu, Sebentar saya ambilkan.” Jawabnya
langsung berlalu mengambilkan baju Seragam yang aku pesan.
Sementara
Ibu penjaga toko itu mencari, aku perhatikan dua orang anak kecil yang sebelumnya
bersama ibu penjaga toko itu beridiri tak jauh dari posisiku sekarang. Seorang anak Perempuan berusia sekitar 12
tahun, dan satunya lagi anak laki-laki yang mungkin seumuran dengan adikku. Aku
tidak tahu pasti apa yang sedang mereka bicarakan sampai terlihat serius
begitu, bahkan dari ekspresi wajah anak laki-laki itu terlihat murung. Aku
tersenyum singkat dan bergegas menghampiri mereka.
“
Assalamualaikum, hai.. ada apa?.” Tanyaku pelan sambil sedikit membungkukkan
tubuhku dihadapan anak laki-laki itu.
“
Aku ingin membeli seragam, Tapi...” jawab anak laki-laki itu.
Aku
mengerutkan sedikit alisku dan mengangkat tubuhku, ku alihkan pandanganku pada
anak perempuan yang berdiri disamping anak laki-laki itu.
“
Tapi kenapa?.” Tanyaku lagi.
Anak
perempuan itu menunduk dan melihat beberapa lembar uang yang ia genggam di
tangannya.
“
Uangnya kurang.” Sambung anak laki-laki itu.
Anak
perempuan itu kembali mengangkat wajahnya dan menatap tajam pada adiknya.
“
Berapa kurangnya biar kakak tambahin ya.” Ucapku hendak mengeluarkan beberapa
lembar uang didalam dompetku.
“
Uangnya kurang 2000, kita udah coba tawar seragamnya tapi tetap nggak bisa
kurang.” Jawab anak perempuan itu.
Aku
berhenti sejenak, ku fikir jika membelikan dua baju seragam tidak ada salahnya.
Terlebih usia anak itu sama dengan usia adikku. “ Biar kakak yang belikan saja
ya, uang itu kalian simpan saja.”
“
Wah bener kak?.” Ucap anak laki-laki itu dengan tawa sumringah.
Aku
mengangguk. Namun sang kakak justru menyambar tangan adiknya yang hendak
mengambil beberapa lembar uang dari tanganku. “ Ibu sudah pesan sama kita kan
jangan meminta dari orang lain.” Ucap sang kakak.
“
Tapi, kalau aku nggak pakai seragam, besok aku nggak bisa sekolah.” Jawab anak
itu.
Aku
tersenyum singkat begitu mendengar percakapan mereka. “ Tidak apa-apa, kalau
kalian nggak mau kakak belikan, uangnya kakak tambah saja dua ribu ya, jadi
kalian bisa beli seragamnya.” saat itulah ibu penjaga toko kembali dan
memberikan Seragam sekolah yang aku minta.
“
Berapa bu harganya?.” Tanyaku.
“
Empat puluh delapan ribu nak.” Jawabnya.
Aku
menyerahkan uang selembar 50.000 dan ibu itu mengembalikan dua ribu rupiah
padaku.
“
Ini uang 2000nya, kakak nggak keberatan kok, yang penting kamu bisa sekolah
besok.” Ucapku pada anak perempuan itu dan memberikan uang 2000 rupiah padanya.
“
Terimakasih kak.”
Aku
mengangguk dan berlalu pergi dari mereka. seragam sekolah untuk adikku telah
siap, tidak sabar rasanya melihat ekspresi wajah bahagia dia begitu melihat
seragam barunya.
*
* *
“
Haikal....” teriakku memanggil nama adikku begitu aku sampai di rumah. Rumah sederhana
dengan cat tembok berwarna hijau yang menjadi persinggahan aku dan keluarga. Aku
lihat jam di dinding pukul 02.00 siang. Rumah masih sepi. Ayahku tentu belum
pulang bekerja, sedangkan ibu, pasti masih mengikuti pengajian bulanan di dekat
masjid. Aku kembali memanggil nama adikku, namun tak kunjung ada jawaban. Perasaanku
mulai tak karuan. aku punya alasan kenapa perasaanku begitu khawatir pada
Haikal. Ya, Haikal menderita kelainan jantung bawaan sejak lahir. Aku takut
jika sesuatu terjadi padanya.
Begitu
tiba di depan kamar Haikal, aku ketuk pintunya, masih tak ada jawaban. Dengan cepat,
aku buka pintu kamarnya dan melihat anak itu terkapar dibawah lantai.
“
Astaghfirullah.” Ucapku panik langsung berlari mendekatinya.
Aku periksa degupan jantungnya,
hembusan nafasnya. Semoga masih belum terlambat. Segera aku hubungi kedua orang
tuaku, memintanya agar segera pulang dan membawa Haikal kerumah sakit.
Berkali-kali aku atur nafasku,
menenangkan fikiranku. Sudah 30 menit sejak aku dan kedua orang tua membawa
Haikal ke rumah sakit, tapi Haikal belum juga sadar. Aku tahu ini salah kami,
salah aku dan kedua orang tuaku. Seharusnya Haikal sudah di operasi beberapa
tahun yang lalu, tetapi karena memang keadaan ekonomi yang tidak bisa
dipaksakan, akhirnya Haikal harus rela menahan sakit begitu serangan itu datang
tiba-tiba.
Bagaimana
rasanya menjadi seorang kakak begitu melihat adik yang paling disayanginya
menahan sakit?. Terluka ? tentu!, jika saja penyakit itu bisa dipindahkan,
biarlah diriku saja yang menanggung. Setetes air mataku jatuh. Berharap jika
Haikal akan baik-baik saja.
* * *
15 tahun kemudian....
Aku
bersandar di sofa sambil menonton acara televisi begitu mendengar seseorang
mengucapkan salam di depan rumahku. Aku menengok sejenak. Ah, Haikal. Dia sudah
pulang rupanya. Aku lihat tubuh tinggi dan wajah putihnya yang tersenyum
berseri-seri begitu mendekat kearahku. Dia adik yang tampan. Dan aku beruntung
memilikinya. Sambil mencium tanganku dia berkata.
“
Aku benar-benar lelah hari ini.” ucapnya.
“
Istirahatlah, aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu.” Jawabku.
Haikal
tersenyum dan berlalu dariku.
“
Bagaimana dengan jantungmu?, ada masalah lagi?.” Lanjutku.
Haikal
menghentikan laju jalannya dan beralih menatapku “ Aku baik-baik saja.”
Lega rasanya mendengar kalimat
itu. Sejujurnya, aku masih tidak begitu percaya melihat kenyataan Haikal masih
tersenyum dan menyapaku, dia masih bernafas dan mencium tanganku. Aku masih
ingat, kata-kata dokter yang memeriksa Haikal dirumah sakit 15 tahun yang lalu.
‘
Saya tidak yakin dengan kondisi Haikal, kondisi jantungnya sangat parah,jika
tidak segera di operasi, saya khawatir dia tidak bisa bertahan.’ Ya kira-kira
seperti itulah. Tapi kenyataanya... Haikal masih bertahan sekarang, Haikal
masih bernafas dan tersenyum sekarang. Cuma Tuhan yang berhak menentukan umur
seseorang.
Mataku
masih tak lepas dari tubuh Haikal yang berjalan membelakangiku, sampai
tiba-tiba dia berhenti. aku melihat dia
memegang erat dadanya.
“
Haikal, ada apa?.” Ucapku cemas.
Haikal
menggeleng dan kembali melanjutkan langkahnya, sampai tiba-tiba tubuhnya
terjatuh. Aku berteriak histeris dan langsung berlari menghampirinya. Wajah Haikal
begitu pucat. Oh tuhan... apa lagi ini.
*
* *
Haikal
harus segera di operasi. Aku lemas membaca surat tagihan rumah sakit perawatan
Haikal. Belum lagi biaya operasi, semuanya nyaris bernilai puluhan juta. Dari mana
aku bisa dapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat. Sementara kedua orang
tuaku sudah pasrah. Aku tahu mereka pasti memikirkan biaya yang tidak sedikit. Apa
yang harus ku lakukan sekarang. Orang-orang yang berlalu lalang dikoridor rumah
sakit sudah tak kuhiraukan lagi, satu-satunya yang ku fikirkan adalah biaya
operasi untuk Haikal.
Aku sandarkan tubuhku di kursi
tunggu, sampai seorang suster tiba-tiba menyerahkan beberapa lembar kertas
padaku. Aku baca dengan teliti, lagi, tagihan rumah sakit. Namun.... alangkah
kagetnya aku begitu melihat nominal yang tertera pada surat tersebut, semuanya
telah di lunasi. Tapi, oleh siapa?, bahkan biaya operasipun sudah lunas.
“
Sus, saya belum membayar apapun, tapi kenapa bisa lunas?.” Tanyaku bingung.
“
Oh tadi ada pesan dari dokter yang memeriksa adik Mba, dia bilang, semua
tagihan rumah sakit dia yang akan membayarnya.”
“
Dokter?, di..dimana dokter itu sus?.”
“
Dia masih ada pasien, mungkin setengah jam lagi dia baru ada di ruangannya.”
“
Oh gitu, baik sus, Terimakasih banyak.” Ucapku lega.
Aku tersenyum dan sangat bahagia,
satu hal lagi yang harus aku lakukan adalah berterimakasih. Ya, aku harus
menunggu dokter itu di depan ruangannya. Semoga, tuhan membalas semua
kebaikannya.
Tiga
puluh menit berlalu, dokter itu belum juga datang, sampai seorang laki-laki
berpakaian putih berjalan mendekat ke ruang dokter di depanku. Tidak salah
lagi, dia pasti dokter itu. Tapi ternyata, wajahnya sungguh berbeda dari
bayanganku. Dokter itu masih muda, dan tampan. Tapi sepertinya aku pernah
melihat dokter itu sebelumnya. Bukan. Bukan di rumah sakit, tapi di suatu
tempat yang sudah sedikit aku lupakan.
“
Dokter Rahman?.” Tanyaku begitu dia melintas didepanku.
“
Iya saya, ada yang bisa saya bantu?.” Jawabnya sopan.
“
Sa.. saya mau mengucapkan terimakasih pada dokter, karena dokter akhirnya adik
saya bisa menjalani operasi.” Ucapku.
Dokter
itu tersenyum dan mengajakku masuk ke ruangannya. Aku masih mencoba mengingat
dimana bertemu dokter itu sebelumnya. Tapi, ingatanku tetap tidak membukanya. Aku
semakin heran begitu tiba-tiba dokter rahman menyodorkan uang dua ribu rupiah
di depanku.
“
Kakak masih ingat dengan uang ini?.” ucapnya lagi.
Aku
mengerutkan dahiku, Kakak?, dokter Rahman memanggilku kakak?, apa mungkin dia
pernah bertemu denganku juga?.
“
Seragam sekolah, uang dua ribu, lima belas tahun yang lalu.” ucapnya lagi.
Aku
terkejut. Ya, aku ingat kejadian itu. Tapi... dokter didepanku ini apakah
benar-benar anak laki-laki itu.
“
kita belum sempat berkenalan, nama kakak siapa?.” Tanyanya lagi dengan ramah.
“
Sa..saya..Anisa.” jawabku masih setengah tak percaya. “ Saya benar-benar
bingung harus bicara apa sama dokter, dan saya juga nggak menyangka jika dokter
masih menyimpan memori itu.”
“
jangan panggil saya begitu, panggil saja Rahman. Mana mungkin saya melupakan
memori itu, jika saat itu kakak tidak membantu saya membelikan seragam sekolah,
saya tidak akan sekolah dan saya tidak akan jadi dokter, sampai kapanpun memori
itu akan saya ingat , saya sebut dengan ‘memori uang dua ribu.’.” ucapnya
sambil tersenyum
Aku
terharu. Air mataku yang semula tertahan mulai terjatuh. Selembar uang yang ku
fikir tidak terlalu berarti justru kembali dengan jumlah yang tak pernah ku
sangka. Pengobatan Haikal, dan kesembuhan Haikal. Tuhan, benar-benar telah
menunjukkan kuasanya padaku, melalui selembar uang dua ribu.

No comments:
Post a Comment