Ketika kita lupa jika masih ada Cinta yang lebih besar dari Cinta seorang manusia
Seringkali kita berfikir, kenapa Tuhan begitu tega, membiarkan hambanya terjatuh dalam lubang yang begitu dalam, dan seakan mengabaikan kita, dia seolah tidak mendengar doa yang kita panjatkan. Tapi pernahkah kita berfikir dan merenung sejenak, Karena siapa masalah itu ada? Apakah Tuhan memberikan masalah pada saat kita lahir ke dunia? pernahkah tersirat diotak kita berapa banyak doa yang sudah dikabulkan Tuhan dan kita tidak menyadarinya terlebih bersyukur kepadanya.
Ketahuilah, Tuhan itu maha pencemburu jika ada hambanya yang berharap kepada selain Dia.
mungkin ini salah satu alasan, kenapa Tuhan seolah membiarkan kita sendiri menghadapi berbagai masalah. Dia ingin mendengar rintihanmu yang sudah lama tidak terdengar dalam doa doamu. Dia ingin kita kembali mengingatnya.
Tuhan mencintaimu dengan cara yang berbeda dari cinta manusia kepadamu.
Bukan dengan lisan atau dengan bujuk rayunya, Tapi Tuhan mencintaimu dengan caranya sendiri. saat kita berada dalam titik terendah dalam hidup, dia tidak pernah meninggalkanmu, saat kamu menangis dan merasa kesepian, TanganNyalah yang pertama meraihmu dan memelukmu. Meski tidak dapat dilihat, tetapi jika kita peka akan kehadirannya, Dia akan kita rasakan dalam setiap langkah kehidupan.
Dan ketika tanganmu menengadah keatas, hatimu berbicara kepadanya, sesungguhnya dia mendengarmu, Doa mu menggetarkannya, dan bukannya tidak ingin mengabulkan doamu, sungguh tiada yang sulit baginya, bahkan untuk mengabulkan semua doa doa yang dipanjatkan setiap hari oleh hamba-hambanya, dia mampu mengabulkannya dengan mudah. hanya saja, Tuhan punya pertimbangannya sendiri, dia tahu apapun yang terbaik dan buruk bagimu, atau jika dia merasa doamu tidak pantas untukmu, bukannya Dia tidak akan mengabulkan, tetapi Tuhan akan menggantinya dengan yang lebih baik dan akan memberikannya pada waktu yang tepat.
Percayalah, dalam setiap perjalananmu, Tuhan tidak pernah meninggalkanmu, meski beribu dosa kita perbuat, selama kita ingin kembali padanya, dia akan membuka tangannya selebar mungkin dan menerimamu kembali.
Saat kita berjalan kearahnya, Dia akan berlari kearahmu. Jangan sedih kawan, Yakinlah Tuhan akan menghapus air matamu
by
Syiffanis Amaar
Untukmu yang masih menganggap dunia ini tidak adil
Berapa kali sih kita dengar pernyataan "Dunia itu Tidak Adil" sangat sering bukan?, bahkan kita sendiripun sering menganggap jika Dunia itu tidak adil. Ya memang, Dunia itu tidak adil, dan tidak akan pernah adil. Dunia memiliki mekanismenya sendiri dalam kehidupan manusia.
Jujur, akupun pernah menganggap jika Dunia itu tidak Adil, Begitu banyak usaha yang sudah kulakukan demi mencapai keinginan, namun begitu banyak pula kegagalan itu ku terima, sementara orang lain yang kulihat berhasil lebih dulu mendapatkan keinginanya tanpa harus bekerja keras. Segitu kejamnyakah Dunia ini?, separah itukah Dunia memperlakukan manusia?. Tetapi semakin sering aku berfikir ketidak adilan dunia ini, Dunia seakan mengepungku, mencaciku, dan bahkan tidak pernah memihakku.
Sampai pada level terendah dalam hidupku, aku putuskan untuk membalik pola pikir itu, menghapus semua pernyataanku. Dan membiarkan Dunia bekerja sesuai pada porsinya serta menerima dengan ikhlas setiap perkara dengan apa adanya.
Sobat, tahukah kau kenapa Tuhan mendiamkan kita begitu lama, atau bahkan kita merasa Tuhan tidak mendengar doa kita?, itu semua karena Tuhan ingin menguji seberapa kuat kita berjuang demi keinginan itu, seberapa besar keinginan kita, dan seberapa keras usaha yang dilakukan. Dunia memang tidak adil, Tapi ingatlah selalu ada Tuhan Yang maha Adil, Allah.
Jadi, untukmu yang masih menganggap jika dunia itu tidak adil, mari kita rubah pemikiran itu dengan,
" Biarkan Dunia ini tidak adil padaku, selama masih ada Allah yang maha adil kepadaku."
ubah mindset negative kita ke arah yang lebih positive, maka dunia akan bekerja kearah yang positive.
Salam
Syiffanis Amaar
Cintailah Prosesnya, dan Nikmatilah hasilnya
Demikian juga dengan manusia, kita tidak di tuntut untuk terus bertanya, 'Sampai Kapan.' hanya saja kita hanya perlu menikmati prosesnya, mencintai alur yang sedang Tuhan berikan untuk mencapai apa yang kita inginkan. dan saat semua proses itu selesai, kita bisa menikmati hasilnya, Indah Bukan?
Karena itu, bersabarlah, Tuhan sedang mengujimu seberapa kuat tekadmu dalam mencapai keinginan, Tidak ada sebuah proses yang sia-sia jika di jalani dengan senang hati dan ikhlas, mungkin saat ini kamu sedang bersedih karena begitu sulitnya menempuh proses yang bertubi-tubi, tapi yakinlah, kesuksesanmu sedang menunggu di ujung jalan sana, menantimu dan mempersiapkan diri untuk mengucapkan 'Selamat datang' kepadamu.
Aku juga sering merasakan hal yang sama, tiba-tiba down dan berfikir untuk menyerah, tapi saat aku menengok ke belakang dan melihat semua proses yang sudah ku lalui, rasanya terlalu bodoh untuk berhenti sampai di titi itu, jadi aku berfikir untuk melanjutkannya kembali. Ayo Sobat, dunia ini bukan tempat kita menyerah, dunia selalu menantangmu, mempersembahkan karya-karya terbaik
salam
Syiffanis Amaar
Karena itu, bersabarlah, Tuhan sedang mengujimu seberapa kuat tekadmu dalam mencapai keinginan, Tidak ada sebuah proses yang sia-sia jika di jalani dengan senang hati dan ikhlas, mungkin saat ini kamu sedang bersedih karena begitu sulitnya menempuh proses yang bertubi-tubi, tapi yakinlah, kesuksesanmu sedang menunggu di ujung jalan sana, menantimu dan mempersiapkan diri untuk mengucapkan 'Selamat datang' kepadamu.
Aku juga sering merasakan hal yang sama, tiba-tiba down dan berfikir untuk menyerah, tapi saat aku menengok ke belakang dan melihat semua proses yang sudah ku lalui, rasanya terlalu bodoh untuk berhenti sampai di titi itu, jadi aku berfikir untuk melanjutkannya kembali. Ayo Sobat, dunia ini bukan tempat kita menyerah, dunia selalu menantangmu, mempersembahkan karya-karya terbaik
salam
Syiffanis Amaar
Every Moment Of Summer
“ Every Moment Of Summer ”
Seoul, siapa yang tidak kenal dengan
ibukota Negara ini, pemandangan malam yang cantik dengan cahaya terang dari
lampu gedung pencakar langit di setiap sudutnya. Beberapa barisan kendaraan
bermotor yang sibuk melintas di jalan-jalan utama kota, sampai pada sisa sisa
gumpalan tipis salju yang masih bertaburan di beberapa ruas jalan.
Disisi
jalan sebelah kirilah aku berada. Terjebak dalam aktivitasku sebagai Waitters
di sebuah Caffe bernama Hollys. Caffe bernuansa cokelat muda yang anggun.
Sesekali aku melihat jam di dinding. Sudah pukul 09.00 malam, dan parahnya
lagi, aku masih harus berada disini mengelap kaca jendela yang berdebu. Sesekali aku mengelap keringat di
dahiku, Seoul sekarang tengah memasuki musim semi, dan ini musim semi ketigaku
semenjak pindah dari Indonesia. Kain lap di tanganku juga masih sibuk bergerak
dari kiri kenan dan sebaliknya, membersihkan kaca yang Nampak kusam. Namun,
saat tanganku bergerak ke sisi kanan. Laki-laki itu datang. Berdiri tepat di
depan kaca jendela yang tengah ku bersihkan. Bibir merah mudanya tersenyum
padaku, ini sudah kesekian kalinya ia membuat jantungku berdegup sangat
kencang. Bagaimana tidak, wajahnya yang kharismatik, ditambah dengan mata sipit
khas orang korea dengan tahi lalat kecil di bawah matanya, benar-benar
membuatku terpesona. Dan seakan mempengaruhiku, bibir tipisku mulai
melengkungkan senyum padanya. Kim Joon Suk, dialah laki-laki yang kusebut indah
dibibirku, dan dialah yang terpatri kuat
didalam hatiku.
“Annyeonghaseyo1.”
Ucapnya ramah.
“
Oppa2.” Sahutku sambil keluar dari dalam Caffe dan menghampirinya.
“
Apa kau masih lama?.” Lanjutnya.
“
Tidak, Aku sudah selesai, sebentar aku akan menaruh kain lap dan ember ini ke
dapur.” Secepat kilat aku langsung beralih darinya dan meletakkan semua
perlengkapan melelahkan itu di tempatnya.
Hanya
sekitar lima menit, aku sudah berdiri lagi di hadapanya.
“
Maaf menunggu lama.” Ucapku sambil mengelap keringat didahi dengan punggung
tangan.
Lagi,
dia tersenyum, menarik tanganku dan mengulurkan tangannya untuk mengelap
keringatku.
“
Ay… Kau pasti sangat lelah hari ini, sudah makan malam?.” Tanyanya.
Aku
berusaha keras menaha tawa di bibirku, Ay, dia selalu menyebutku begitu.
“
Ayya, kenapa kau diam saja?.” Lanjutnya.
Dia
selalu memanggil namaku dengan Ayya, nama Indonesiaku, sebenarnya aku sudah
memberitahu dan memintanya memanggilku dengan Cha Hee Sun, namun ia bilang
lebih tertarik menyebutku dengan Ayya, meskipun logat bicaranya hampir
membuatku selalu tertawa.
“
Tidak, aku belum makan malam.” Jawabku.
“
Baguslah, ayooo.”
Joon
Suk menarik tanganku dengan cepat, aku
hanya terdiam merasakan kehangatan genggaman tangannya yang besar dan gagah. Tidak
perduli sepadat apapun rutinitasku dan selelah apapun tubuhku, saat dia hadir,
dan saat dia menampakkan wajahnya di depanku, aku selalu ingin tersenyum.
*
* *
Namsan Tower, sudah sangat lama aku
bermimpi datang kesana bersama Joon Suk. Meski dari kejauhan, Menara setinggi
236 meter itu masih terlihat dari tempat kami berdiri saat ini di atas jembatan
sungai Hangang. Menara tinggi itu juga sering di kunjungi para turis yang
datang untuk menghabiskan liburan mereka, atau hanya sekedar menggantung gembok
cinta bagi para pasangan yang sedang kasmaran pada tiang-tiang di sekitar
menara. Sesekali Joon Suk mengelus rambutku sambil menatap lurus kearah menara.
“ Oppa.” Panggilku.
“ Hmm.”
“ Sudah dua tahun kita bersama, tapi
tidak sekalipun kau bilang ‘Aku sayang
padamu’ atau ‘Aku cinta padamu’
aku ingin sekali mendengarnya dari mulutmu.”
Joon Suk tertawa singkat. Sudah
kuduga, kata-kata itu tidak akan mudah keluar dari bibirnya.
“ Walaupun aku tidak pernah berkata
seperti itu, kau masih tetap dan akan tetap menjadi kekasihku.”
“ Huuuuh…. Kau tidak pernah berhasil
membuatku marah.” Ucapku sambil menghela nafas sejenak. Ia tersenyum dan
melanjutkan.
“ Saat musim panas tiba, ada yang ingin
ku sampaikan padamu.”
“ Musim panas? Kenapa tidak kau
katakan sekarang saja? Masih beberapa bulan lagi saat musim panas tiba.”
“ Sabar Chagiya3, aku tidak bisa berjanji banyak hal padamu,
tapi aku akan berusaha yang terbaik untukmu, sekarang, kita pulang ini sudah
larut malam.”
Aku mengangguk dan mengikuti
langkahnya. Sebuah kesederhanaan dalam hidupku adalah saat aku jatuh cinta
kepadanya. Laki-laki istimewa yang selalu membuatku jatuh cinta setiap hari.
*
* *
‘PLAK….’ Aku membanting tubuhku di
atas kasur kamar tidurku. Disinilah aku tinggal sebuah flat sederhana berlantai
dua. Meskipun tidak mewah, aku benar-benar nyaman tinggal disini, lantai
kayunya terasa hangat terlebih ketika musim panas tiba, di tambah dengan
jendela kecil di sudut kamar, aku bisa membukanya sesekali, menghirup udara
segar ketika jenuh dan setres melanda isi kepalaku, ketika matahari terbit
pertama kalinya saat musim dingin pergi, aku juga bisa melihatnya, betapa
indahnya pemandangan itu.
Aku membalik tubuhku dan menatap ke langit-langit
kamar. ‘tuk..tuk…tuk’ suara itulagi. Suara sepatu yang sangat akrab ku dengar.
Segera aku bangun dari posisiku dan mengalihkan pandangan pada engsel pintu,
sambil menghitung dalam hati dan BLAAAR….
Seketika pintu terbuka.
“Annyeonghaseyo Hee Sun…..”
seorang gadis cantik berambut cokelat muncul dari balik pintu. Sudah ku duga
itu pasti dia. Kedua tangannya memegang dua kantong belanjaan dan ekspresi
wajahnya, ya tuhan.. dia benar-benar bahagia.
Seketika itu juga dia berlari
kearahku dan memelukku
“ Hee Sun.. aku benar-benar bahagia
malam ini, lihatlah ..” serunya sambil mengeluarkan beberapa setelan baju dan
high heels dari kantong belanjaanya.
“ Kang Min Ah… Sudah ku bilang kau
jangan meminta apapun dari pacarmu, kau bisa di anggap … ah sudahlah.” Jawabku
sambil menepuk dahi. Meskipun dia sahabatku, tetapi tingkahnya kadang sulit di
mengerti.
“ Aku tidak memintanya, dia yang
menawarkan dan membelikannya untukku. Kau sendiri, bagaimana dengan Joon Suk?
Aku tidak pernah melihatmu memakai barang pemberian darinya, atau jangan-jangan
dia tidak pernah memberikanmu apapun.” Selidiknya, demi apapun, aku paling
benci ekspresi wajahnya saat menyelidikiku.
“ Dia, memberikanku sesuatu yang
tidak ternilai harganya.” Jawabku sambil tersenyum padanya.
“ Oh iya, Apa? Beri tahu aku.”
“ Min Ah, kau tahu, Cinta itu bukan
dari seberapa besar barang yang kau terima darinya, tapi….” Aku jeda sejenak
dan menerawang jauh ketika bersamanya “ saat kau di dekatnya, kau selalu merasa
tenang, saat kau bersamanya, kau selalu ingin tersenyum, dan kau tidak akan
pernah berhenti mengingatnya.” Lanjutku.
Min Ah terdiam. Ia menatapku lekat
“ Satu hal yang aku tahu bahwa,
Cinta itu Sederhana.” Ucapku sambil menarik selimut dan kembali merebahkan
tubuhku. Min Ah langsung menggangguku dengan menarik-narik selimut dan
menggoyangkan tubuhku. Aku tidak perduli, aku hanya sedikit tersenyum tanpa
menghiraukannya.
*
* *
Sejuknya udara pagi ini menambah
daftar semangatku untuk pergi bekerja. Saat ku langkahkan kakiku keluar dari
Flat, bunga-bunga sakura yang berbaris hampir di setiap sisi jalan seolah
menyapaku, mereka mulai bermekaran setelah cukup lama tertidur dalam musim
dingin. Aku menghirup udara sekuat-kuatnya sambil memejamkan mata. Udara yang
sangat segar, tidak terlalu dingin namun tidak juga terlalu hangat. Musim semi
memang selalu spesial bagiku.
Kembali ku ayunkan langkahku menuju
halte Bis. Beberapa kendaraan dan pejalan kaki hilir mudik di sampingku.
sesekali aku menguap, nyatanya tidurku semalam belum cukup nyenyak. aku berdiri
di antara barisan orang-orang di halte. Tas mungil yang ku gandeng di sebelah
kananku tidak pernah tertinggal, di sinilah aku menaruh ponsel, dan beberapa
alat make up. Sampai tiba-tiba aku rasakan ponselku bergetar. segera ku rogoh
tas kecil milikku dan melihat sederet huruf dilayar ponsel. Astaga…. ini telpon
dari Joon Suk.
“ Annyeonghaseyo, Oppa..!” Seruku
kegirangan begitu mengangkat ponsel.
Masih tak ada jawaban, aku mengulang
kalimatku lagi, namun suara berat seseorang dari seberang telpon membuatku
mengerutkan dahiku. Aku terdiam cukup lama, sampai orang itu mengatakan hal yang
membuat duniaku berhenti. Seketika itu juga air hangat dari kedua kelopak
mataku terjatuh. Tanpa kusadari, ponsel yang semula kugenggam erat disamping
telingaku ikut terjatuh.
“ Oppa.” gumamku pelan dalam
setengah sadar. Dunia di sekitarku mendadak hening. Seperti tidak merasakan
kakiku sendiri, aku berlari sekencang mungkin menuju rumah sakit tempat Oppa berada.
‘Choen Yoel Hospital’ begitulah tulisan yang ku baca di
depan rumah sakit. kakiku masih tidak berhenti berlari menusuri koridor demi
koridor. sesekali aku intip ruangan-ruangan di sana, berharap Joon Suk ada
disalah satu ruangan itu. begitu tiba di depan ruangan 401 kakiku sudah terasa
lemas, aku bersandar dibalik kaca jendelanya, dan menarik nafas sekuat-kuatnya.
Aku berbalik menghadap kaca, saat itulah ku rasakan kedua kakiku melemas, saat
ku lihat wajah laki-laki didalam ruangan itu. kini air mata yang semula masih
bisa ku bendung, jatuh begitu saja. Hatiku masih tidak percaya dengan yang
kulihat, secara perlahan aku mendekat, membuka pintu ruangan dan melihat dengan
jelas laki-laki yang terbaring lemah diatas kasur. itu benar-benar Joon Suk.
seorang Dokter dan beberapa perawat lain sibuk mengobati luka di wajah Joon
Suk. Aku masih berdiri terdiam, sampai seorang suster menarik lenganku dan
mengajakku keluar. Aku tak melawan, hanya sebuah harapan yang muncul di hatiku
Berharap ini hanyalah sebuah mimpi.
Sambil membenamkan wajahku diantara
kedua lutut yang kutekuk, aku terduduk di lantai. Suara langkah dua orang yang
mendekat kearahku, membuatku kembali mengangkat wajah. mereka kedua orang tua
Joon Suk. Segera aku berdiri dan menghadap keduanya, Namun…
“ Plak…” ku rasakan tangan itu
mendarat keras di pipiku.
Aku terhenyak. Pukulan itu, benarkah
di tujukan untukku?.
“
Sudah kukatakan berkali-kali untuk menjauhi Joon Suk! Kenapa kau tidak pernah
mendengarkan ?!, Jika bukan karena kau, Joon Suk tidak akan kecelakaan, Seumur
hidupku aku tidak akan pernah merestui hubungan kalian.” Ucap Ibu Joon Suk
lantang padaku. aku tidak menjawab, sebuah ekspresi yang kulihat darinya,
membuatku mengerti, betapa takutnya ia kehilangan Joon Suk.
* * *
“ Melihat kondisi Joon Suk yang
seperti ini, saya tidak yakin dia akan bertahan jika alat alat medis itu
dilepaskan.” Sayup-sayup kudengar ucapan dokter yang memeriksa Joon Suk dari
luar ruangan kepada kedua orang tuanya. Aku trediam mematung, lagi-lagi air
mataku meleleh, Tidak… Tidak mungkin Joon Suk seperti itu, aku yakin dia akan
sadar.
‘Tuhan, apapun yang terjadi ku mohon.. ku mohon… selamatkan
Oppa.’
ucapku dalam hati sambil menahan suara tangisku.
‘Blar..’ Pintu ruangan terbuka
keras, ibu Joon Suk keluar dengan derai tangis di wajahnya ia pergi begitu
saja, di susul dengan sang ayah. Segera aku tarik tangannya dan menghentikannya
menyusul ibu Joon Suk.
“
Aboji4, yang di
katakan dokter itu salahkan?, Oppa tidak mungkin hanya bertahan dengan
alat-alat medis itu kan.” ucapku.
“ Apa yang terjadi dengan Joon Suk?,
sebelum kecelakaan ini kau sedang bersamanya bukan?.” jawabnya membatku
terdiam.
Belum sempat ku jawab, dia langsung
pergi dan mengabaikanku. Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi,
bagaimana bisa ayahnya mengatakan jika Joon Suk sedang bersamaku sebelum
kejadian ini.
Aku menerawang dari balik kaca,
menempelkan tanganku disana dan melihat wajah Joon Sook yang tertidur pulas. “
Oppa.. Bangunlah.”
*
* *
Tidak terasa, musim semi telah
berlalu, kini matahari telah benar-benar bersinar tanpa ragu. Pohon Pohon yang
semula masih bermalas-malasan menampakkan daunya, kini telah
tumbuh seperti biasa. kicauan
bung-burung penyambut pagi juga sudah memulai aktivitasnya kembali. Hanya aku,
hanya aku yang merasa musim panas kali ini bagaikan musim dingin tak berujung.
Setiap pagi, aku berharap bisa melihat senyuman hangat itu, dan merasakan
genggaman hangat tangannya lagi. Tetapi, mungkin semua itu hanyalah harapan
tanpa kepastian, saat aku datang ke rumah sakit, aku masih melihat laki-laki
itu terbaring tidak sadarkan diri dengan banyak peralatan medis di tubuhnya.
Hanya sebuah kaca jendela tebal di depan ruangan Joon Suk yang menjadi
prantaraku berbicara dengannya. Kedua orang tua Joon Suk masih menganggap
akulah penyebab kecelakaan ini.
Aku
menghela nafasku berkali-kali. Seperti biasa, mengelap kaca jendela di Kafe
tempatku bekerja, saat aku mengeserkan lap pada kaca jendela, ingatan itu
membawaku kembali pada Joon Suk. betapa seringnya ia muncul tiba-tiba dibalik
kaca yang sedang ku bersihkan, menyubit pipiku dan menggenggam tanganku.
Tatapanku
masih kosong memandang keluar jendela. Beberapa orang hilir mudik bersama pasangannya.
Jika waktu bisa kuputar kembali, aku tidak pernah ingin berhenti saat aku
bersamanya.Setetes, dua tetes air mata itu kembali terjatuh, aku buru-buru
mengelapnya sebelum ada yang menyadari aku menangis. Entahlah, apa yang membuat
harapanku terbang begitu jauh, Aku menanti janjinya untuk mengatakan sesuatu
padaku saat musim panas tiba.
“
Kau tidak bisa hidup seperti ini terus Hee Sun.” suara lembut itu memecah
keheninganku. aku menoleh dan melihat Min Ah berdiri di belakangku.
“
Kau harus menjalani hidupmu seperti biasa.” lanjutnya lagi, aku masih tak
menjawab. sampai dia menarik lenganku dan mengajakku duduk.
“
Sudahlah jelaskan kepada kedua orang tua Joon Suk, jika kecelakaan itu bukan
karena kau, kau tidak tahu menahu soal kejadian itu.”
“
Biarkan saja, yang ku khawatirkan... bagaimana jika kedua orang tua Oppa
menyerah dan melepas alat medis itu?, hanya itu satu-satunya harapan agar Oppa
tetap hidup.” jawabku lemah. Lagi, aku menangis dihadapan Min Ah, dan punggung
lembutnya selalu bersedia menopang kepalaku saat aku sudah tidak mampu
mengangkatnya lagi.
* * *
Berat
sekali kulangkahkan kaki ini, meninggalkan rumah sakit tempat Joon Suk dirawat.
wajahnya yang diam tanpa ekspresi membuatku sadar untuk menguatkan diri jika
kemungkinan terburuk akan terjadi. Ku atur nafasku berulang kali, masih
terngiang ucapan kedua orang tua Joon Suk dengan dokter perihal pelepasan alat
bantu medis di tubuh Joon Suk.
Sambil
memasukkan tanganku ke saku jaket aku berjalan, menuju danau tak jauh dari
rumah sakit. Ah.. aku masih ingat saat itu, Ketika aku sakit dan Joon Suk
mengajakku ke tempat ini, dia benar-benar membuatku lupa akan sakitku.
Kembali
aku memegang wajahku, lagi, air mata itu kembali terjatuh, aku mengelapnya
segera. Bunga sakura yang kulihat di pinggir danau seakan membuatku hangat
kembali. Ini benar, musim panas sudah tiba, Tapi Joon Suk belum mengatakan hal
yang ingin dikatakannya padaku. Ku pejamkan mataku sesaat, dan meletakan salah
satu tanganku pada batang pohon Sakura, kurasakan hembusan angin yang bertiup
kearahku, meniup rambutku yang tergerai dan meniup lembut pipiku.
“
Ayya….” Aku tersentak, suara itu sayup sayup ku dengar, aku membuka mataku
kembali.
“
Ayya….” Lagi, suara itu kembali memanggilku, kali ini lebih jelas, segera aku berbalik
arah. Melihat sesosok laki-laki yang sangat ku rindukan. Dia tersenyum indah
padaku dan berdiri tegak menatapku, Air mataku kembali terjatuh, di ikuti
dengan lengkungan indah disudut bibirku, tanpa kusadari, aku berlari kearahnya
dan memeluknya, merasakan dekapan hangat dirinya lagi.
“
Oppa….” lirihku memanggilnya.
“
Maafkan aku membuatmu menunggu terlalu lama, Ayya.” jawabnya sambil menepuk
nepuk bahuku berusaha menenangkan isakan tangisku.
“
Apa yang terjadi padamu Oppa?.” tanyaku melepaskan pelukan darinya, ku tatap
wajahnya.
“
Kau tidak akan pergi lagi kan?, kau akan tetap di sisiku kan.” lanjutku.
Joon
Suk tersenyum, kedua tanganya meraih wajahku, meletakkannya di pipi ku.
“
Sarang hae5, Cha Hee Sun.”
Aku
terdiam, Kata-kata itu, sudah sangat lama aku menantinya, Joon Suk melanjutkan,
ia merogoh celananya dan mengambil kotak hitam dari saku celananya.
“ Sebenarnya, sebelum kecelakaan
itu, aku ingin memberikan Cincin ini padamu, Orang tuaku melarangku pergi,
karena saat itu kondisiku sedang tidak baik, tapi… aku hanya ingin membuktikan
kalau aku benar-benar mencintaimu.”
“
Oppa….” gumamku.
Joon
Suk mengelap air mata di pipiku dengan tangannya, ia memakaikan cincin itu
dijari manisku, entah aku tidak tahu apa yang harus ku katakan, tapi aku
benar-benar sangat bahagia.
“
Ayya, aku berjanji akan mengatakan sesuatu saat musim panas tiba padamu
bukan?.”
Aku
mengangguk
“
Aku ingin kau menjalani hidupmu seperti sebelumnya, tersenyumlah dan cerialah
seperti kau yang pernah aku kenal.”
“
Apa maksudmu Oppa, Kau tidak akan pergi lagi bukan? kita akan bersama kembali
kan.”
Joon
Suk menggeleng, kali ini air matanya yang mentes, ia mengeggam jariku erat, dan
melepaskan cincin yang sebelumnya ia pakaikan di jari manisku.
“
Apa yang kau lakukan Oppa….” belum sempat ku lerai, ia melemperkan cincin itu
ke danau.
“
Uijima6, Aku ingin kau menjalani hidupmu
seperti biasa, Izinkan aku pergi.”
“ Kajima7 Oppa, Kajima…” lirihku berkali kali, aku
menggenggam tangannya erat, sementara ia berusaha melepaskannya.
Semakin
keras kutahan tangannya, semakin keras pula ia melepaskannya dariku, aku sudah
tidak bisa menggenggamnya lagi, Joon Suk berjalan membelakangiku dan menghilang
bersama angin yang bertiup.
Aku
hanya bisa terdiam, menangis dan merasakan kedua lututku lemas, namun, nulariku
masih tidak menyerah, aku berlari sekencang-kencangnya menuju rumah sakit,
berharap Oppa sudah tiba disana. Namun,
harapanku seakan musnah begitu kulihat kedua orang tua Joon Suk menangis
didepan kamar Joon Suk. aku tahu, kehadiranku pasti di tolak oleh mereka, tapi
itu semua tidak membuatku takut untuk mendekat.
“Eommonim8, Aboji9….”
ucapku pelan.
mereka menoleh padaku dan menatapku
lekat. Ibu Joon Suk tiba-tiba memelukku dan menangis saat itu juga
“
Hee Sun Ah… maafkan kami, kami telah
membenci orang yang salah, maafkan kami atas perlakuan kasar kami padamu.”
Kata-kata
itu membuatku terdiam, Apa yang terjadi pada mereka sampai bisa berubah seperti
ini.
“
Joon Suk datang kepada kami, dan menjelaskan semuanya tentang kecelakaan itu,
aku benar-benar minta maaf karena telah memukulmu.” lanjutnya lagi sambil
melepaskan pelukannya dari tubuhku.
“ Joon Suk menemui kalian??,
sekarang dimana dia ?, Joon Suk benar-benar sudah sadar kan?.”
“
Joon Suk… Joon Suk meminta kami untuk melepaskan alat medis itu dari tubuhnya,
dia hanya ingin menemui kami dan meminta izin untuk pergi.”
“
A..ap..apaa?, jadi maksud kalian sekarang Joon Suk?....” aku tidak sanggup
melanjutkan kata-kata aku lagi, kedua kakiku serasa lemas, dan aku terjatuh
saat itu juga, Joon Suk benar-benar sudah pergi….
* * *
Apa yang akan kamu lakukan saat
orang yang kamu sayangi pergi dan tidak akan kembali?, Sedih? Menangis? Kecewa
atau justru marah?. Tapi aku tidak melakukan semua itu, ya, aku memang pernah
bersedih dan menangis saat pertama Joon Suk menghilang dari duniaku, setiap
kali aku ingat kenangan tentangnya, air mata ku tidak pernah berhenti keluar,
tapi disinilah aku, aku berusaha ikhlas menerima kepergiannya, di saat yang
spesial, di moment yang berharga, di musim yang indah, aku kehilanganya saat
musim panas tiba, kehilangan kehangatan setelah musim dingin.
Aku berusaha tersenyum, berusaha
ceria menjalani hidupku seperti yang pernah Joon Suk katakan, Kini sudah satu
bulan semenjak kepergian Joon Suk, hari - hariku memang sepi tanpanya, tapi itu
semua tidak menjadikanku kehilangan duniaku.
Aku
tersenyum ketika matahari bersinar dipagi hari, melangkahkan kakiku ke Caffe,
bekerja seperti biasa, mengucapkan ‘Annyeonghaseyo,
atau sekedar mengucapkan selemat menikmati hidangan kami.’ kepada para
pelanggan. Sekali lagi, aku tetap berusaha menjalani hariku. Aku melihat keluar
jendela, kudapati seorang gadis berjalan kearah ku, dia sahabatku Kang Min Ah,
baru beberapa menit saat aku melihatnya di seberang jalan, kini gadis cantik
itu sudah berada dihadapanku.
“
Aku senang melihat senyummu pagi ini Hee Sun.” ucapnya ramah.
“
Joon Suk yang mengajariku, dia yang mengajariku untuk tersenyum saat aku sedang
sedih.” Jawabku sambil tersenyum. “ kau tahu Min Ah, Terkadang Cinta itu memang
indah, Cinta itu memang sangat membuatmu bahagia, dan membuatmu berjuang lebih
dari apapun, menjadikanmu pribadi yang lebih kuat dari yang belum parnah kau
duga, tapi kau tidak bisa melupakan jika
Cinta jugalah yang membuatmu sakit, cinta jugalah yang membuatmu terluka.” Lanjutku.
“
Darimana kau belajar semua itu ?.”
Aku
tersenyum menatapnya “ Cintalah yang telah mengajariku.”
Min Ah tersenyum padaku dan kembali
memelukku dalam dekapan lembutnya. Aku bersyukur, bersyukur telah dipertemukan
dengan orang seperti mereka, Kang Min Ah, dan kau Oppa.
*
* *
Tetap Berjuang, Tetap Berusaha, Tetap Semangat ....
Untukmu yang sedang galau dengan mimpimu ...
Sebelum Artikel ini di di baca lebih lanjut, aku ingin bertanya, sudahkah kamu berterimakasih pada semua mimpi-mimpimu?, mimpi yang membuatmu tetap bertahan dan berharap jika semuanya akan terwujud pada waktunya?. sebuah mimpi yang memberikan jawaban atas segala pertanyaan hidup
' Untuk apa kamu berjuang dalam hidup ini?.' sebuah mimpi yang akan mengantarkanmu pada semangat yang tiada henti untuk terus berjuang mewujudkannya.
Memang, mewujudkan mimpi tidak semudah saat kamu terbangun dari tidurmu dan membalikkan telapak tangan, tapi bukan berarti mimpi itu sulit untuk di realisasikan. aku pun pernah merasakannya, bagaimana harus merangkak perlahan demi perlahan, dan melewati kerikil-kerikil tajam yang menghalangi langkahku. Tapi percayalah, semua akan indah pada waktunya.
Kadang, sempat terfikir untuk menyudahi mimpi yang baru saja dibangun, tapi menengoklah kebelakang, lihat seberapa jauh langkah yang sudah kamu ambil untuk mewujudkannya.
Cobalah lihat sejenak orang orang sukses di luar sana, darimana awalnya mereka berasal dan bagaimana perjuangan yang telah mereka lakukan untuk sampai di titik itu?, sungguh, sangat tidak mudah, Tetapi mereka tidak menyerah, mereka tetap percaya jika menyerah bukanlah jawabannya.
Berjuanglah untuk sebuah mimpi yang selalu menjadi penyemangat hidupmu, pertahankan ia dan turunkan kembali bendera putihmu.
' Bermimpilah setinggi-tingginya.' seperti itulah pepatah yang sering dikatakan orang tua, tetapi kata-kata itu memang sangat manjur dalam rumus kehidupan, semakin tinggi mimpi kamu, semakin tinggi pula perjuangan yang harus kamu lakukan untuk mewujudkannya.
Semangatlah, jika saat ini kamu gagal, itu adalah cara tuhan untuk membuatmu lebih kuat dan lebih berjuang.
harus ku katakan sekali lagi, tidak ada kesuksesan yang datang secara tiba-tiba, dan tidak ada mimpi yang terwujud dengan sendirinya. tapi apabila kamu gagal mewujudkannya, jangan menyerah, tetap yakin dan fokuslah pada tujuan dan cita-citamu, karena tuhan ingin melihatmu berjuang lebih keras lagi, agar ia bisa yakin dan percaya, seberapa besarkah keinginanmu pada mimpimu.
dan untukmu yang sedang galau karena mimpimu, tersenyumlah, mimpimu sedang menunggumu di ujung jalan perjuanganmu, untuk sampai kepadanya.
by : Syiffanis Amaar
Sebelum Artikel ini di di baca lebih lanjut, aku ingin bertanya, sudahkah kamu berterimakasih pada semua mimpi-mimpimu?, mimpi yang membuatmu tetap bertahan dan berharap jika semuanya akan terwujud pada waktunya?. sebuah mimpi yang memberikan jawaban atas segala pertanyaan hidup
' Untuk apa kamu berjuang dalam hidup ini?.' sebuah mimpi yang akan mengantarkanmu pada semangat yang tiada henti untuk terus berjuang mewujudkannya.
Memang, mewujudkan mimpi tidak semudah saat kamu terbangun dari tidurmu dan membalikkan telapak tangan, tapi bukan berarti mimpi itu sulit untuk di realisasikan. aku pun pernah merasakannya, bagaimana harus merangkak perlahan demi perlahan, dan melewati kerikil-kerikil tajam yang menghalangi langkahku. Tapi percayalah, semua akan indah pada waktunya.
Kadang, sempat terfikir untuk menyudahi mimpi yang baru saja dibangun, tapi menengoklah kebelakang, lihat seberapa jauh langkah yang sudah kamu ambil untuk mewujudkannya.
Cobalah lihat sejenak orang orang sukses di luar sana, darimana awalnya mereka berasal dan bagaimana perjuangan yang telah mereka lakukan untuk sampai di titik itu?, sungguh, sangat tidak mudah, Tetapi mereka tidak menyerah, mereka tetap percaya jika menyerah bukanlah jawabannya.
Berjuanglah untuk sebuah mimpi yang selalu menjadi penyemangat hidupmu, pertahankan ia dan turunkan kembali bendera putihmu.
' Bermimpilah setinggi-tingginya.' seperti itulah pepatah yang sering dikatakan orang tua, tetapi kata-kata itu memang sangat manjur dalam rumus kehidupan, semakin tinggi mimpi kamu, semakin tinggi pula perjuangan yang harus kamu lakukan untuk mewujudkannya.
Semangatlah, jika saat ini kamu gagal, itu adalah cara tuhan untuk membuatmu lebih kuat dan lebih berjuang.
harus ku katakan sekali lagi, tidak ada kesuksesan yang datang secara tiba-tiba, dan tidak ada mimpi yang terwujud dengan sendirinya. tapi apabila kamu gagal mewujudkannya, jangan menyerah, tetap yakin dan fokuslah pada tujuan dan cita-citamu, karena tuhan ingin melihatmu berjuang lebih keras lagi, agar ia bisa yakin dan percaya, seberapa besarkah keinginanmu pada mimpimu.
dan untukmu yang sedang galau karena mimpimu, tersenyumlah, mimpimu sedang menunggumu di ujung jalan perjuanganmu, untuk sampai kepadanya.
by : Syiffanis Amaar
TEBAR JAKET INSPIRASI REMAJA
WOOOOOOOWWWW...... Ada Jaket gratisssss loh buat kamu....!!!!
Ikutan kuisnya yuk.... caranya gampang ko, kamu cuma perlu Upload foto terunik dan terkerenmu dengan novel " SERAMBI CINTA DI NEGERI CAHAYA " dan me Like Fanspage Inspirasi Remaja
informasi lebih lanjut kamu bisa cek & Ricek di Link berikut : https://www.facebook.com/pages/Inspirasi-Remaja/1403411376620808?ref=hl
IKUTAAAAN YAAAAAH...... JANGAN SAMPAI KETINGGALAN
Karena Allah Tidak Pernah Melupakanmu
“
Sebuah kata sederhana yang mungkin sulit di ucapkan kepada seorang laki-laki
yang bahkan tidak pernah menyakitimu, untuk seorang laki-laki yang memiliki
senyum sehangat sinar matahari.”
Aku
tidak pernah menyangka, Tuhan merencanakan hidupku sedemikian dahsyatnya.
Sebuah rahasia terindah yang Dia rencanakan untukku. Sambil tersenyum bahagia,
aku tatap wajah-wajah penuh semangat di depanku, tepukkan tangan mereka, dan
pandangan kagum mereka.
Tapi,
ada satu orang yang sedang ku tunggu. Dia yang mengantarkanku pada mimpi yang
semula ku anggap mustahil, aku memejamkan mataku sesaat, berharap jika dia
benar-benar datang di acara bedah buku perdanaku kali ini.
Seorang
laki-laki bertubuh kurus dan berkemeja putih mengalihkan pandanganku ketika aku
membuka mata kembali, senyumku mengembang tatkala dia tersenyum dan melambai
kearahku.
*
* *
Jakarta, Januari 1995
Hujan
deras di malam hari bulan itu terdengar sangat menakutkan, cahaya kilat dan
suara petir yang bergemuruh terdengar sampai ke penjuru kota Jakarta, bahkan
sampai ke sudut-sudut rumah sakit. Seorang wanita paruh baya memeperjuangkan
hidupnya di kasur rumah sakit, memohon dan berharap seandainya dia tidak bisa
selamat hari ini, setidaknya bayi yang sedang di lahirkannya akan selamat dan
tumbuh dengan sehat.
Dari luar ruangan tepat di depan
pintu, laki-laki bertubuh kurus dan gagah itu sedang harap-harap cemas menanti
kelahiran buah cintanya, hingga seorang dokter datang menghampirinya.
Laki-laki bertubuh kurus langsung menengadahkan
kepalanya ke langit-langit rumah sakit ketika dokter mengatakan sesuatu
kepadanya, laki-laki itu langsung masuk ke ruangan dan melihat seorang bayi
mungil nan cantik di gendong oleh suster. Namun, air matanya meleleh ketika ia
melihat wajah istrinya yang cantik dengan mata terpejam, meski sedikit getir ia
tetap tersenyum saat mengalihkan pandangannya pada bayi cantik dalam
gendongannya itu.
“ Arissa Izz Zahra, nama untukmu
sayang, ayah ingin kamu jadi anak yang kuat namun tetap indah seperti bunga.”
Ucap laki-laki itu.
Laki-laki itu mengusap air matanya
dan membawa Arissa keluar ruangan, ia menghadapkan tubuhnya ke kaca dan
menempelkan tangan putrinya disana, sambil memejamkan matanya ia berkata.
“ Meskipun hidup itu dingin seperti
kaca yang sedang kau pegang sekarang, Tuhan selalu menyiapkan kehangatan
setelahnya.” Dia mengusap air matanya lagi dan memandang lurus ke luar jendela.
* * *
Satu hal yang ku tahu dari hidup ini
adalah hidup itu keras dan dingin. Dan satu hal lainnya yang sangat sulit ku
mengerti adalah untuk apa tuhan menghadirkanku dalam hidup ayah dengan
mengambil ibu, satu-satunya wanita yang bisa membuat ayah tersenyum. kini sudah
5 tahun berselang sejak ibu pergi meninggalkan ayah.
Dari balik jendela pintu kamar, aku
melihat ayah sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk kami. Dia menggoreng telur
dadar ke sukaanku, susu cokelat manis favoritku dan sebuah ucapan Selamat pagi
yang bahkan tidak pernah bisa ku jawab.
Dengan senyum hangatnya ia
menghampiriku dan mengajakku sarapan bersama.
“ Arissa, ayo kita sarapan, hari ini
hari pertama kamu masuk sekolah kan?.” Ucapnya dengan lembut.
Aku masih terdiam. Hari pertama
sekolah, tidak pernah terpikirkan olehku jika aku akan sekolah seperti
anak-anak lain, yang aku tahu dari duniaku, aku berbeda. Aku tidak bisa
berbicara seperti mereka berbicara, aku tidak bisa mengekspresikan keinginanku
seperti mereka, dan aku tidak punya ibu seperti mereka.
“ Arissa, ayo sayang…” ucap ayah
lagi.
Meski
dengan sedikit enggan, aku menghampiri ayah dan duduk berhadapan dengannya. Ia
mengambilkan nasi ke piringku dan menaruh telur diatasnya.
“ Ayah sudah bicara dengan kepala
sekolah di sekolahmu, dia bilang kamu bisa mulai ikut pelajaran hari ini.”
Aku terdiam dan beranjak dari kursi
mengambil selembar kertas dan bolpoint. Dengan huruf layaknya anak yang baru
belajar menulis, aku tulis jawabanku dan menyerahkannya pada ayah.
‘
Ayah.. aku takut.’
Ayah tersenyum menatapku setelah ia
baca tulisan itu. aku masih ingat ketika pertama dia mengenalkanku pada huruf
dan mengajarkanku menulis. Ayah benar-benar tidak percaya jika aku bisa
menangkap dengan cepat bahkan hanya berkisar 1 bulan aku sudah bisa menulis
sendiri.
“
Apa yang kamu takuti?, mereka itu sama sepertimu, mereka punya hidung,
punya mulut, dan punya mata seperti kamu, tidak ada yang berbeda.” Ucapnya
sambil tersenyum.
Dan seakan terhipnotis, aku ikut
tersenyum padanya. Ayah benar, walaupun hidup itu dingin dan keras, tuhan
selalu menitipkan keindahannya dalam hal-hal yang sangat sederhana.
* * *
Hidupku
berubah setelah aku masuk dan belajar di sekolah. Dunia yang semula terlihat
sempit di mataku, kali ini terlihat sangat luas. Aku iri pada mereka, aku iri
karena setiap pulang sekolah mereka di jemput oleh ibu mereka bahkan dengan
mobil-mobil mewah nan mengkilap. Sedangkan aku, hanya sepeda tua dan wajah ayah
yang menghiasi hidupku. Hanya ayah yang bisa menjemputku. Aku ingin marah
padanya, kenapa dia tidak bekerja seperti orang tua teman-temanku dan
membelikan mobil bagus untuk menjemputku. Tapi ayah tidak pernah marah, ayah
tidak pernah memukulku meski terkadang aku tidak menghargainya.
Bahkan
ketika aku menangis setelah di ejek teman-teman karena kekuranganku, hanya dia
yang bersedia memeluk dan menenangkanku. Entah kenapa, tapi didalam lubuk
hatiku yang paling dalam, aku sangat menyayanginya.
Dan
pagi ini, saat aku hendak berangkat sekolah, ayah kembali menyiapkan dirinya
untuk mengantarku. Aku hanya bisa mengangguk dan menurut. Namun, saat aku tiba
di sekolah dan ayahku pergi, aku tidak benar-benar masuk ke sekolah. Aku
mengikutinya dan menyusul sampai ke pasar tempat dia bekerja.
Tumpukkan
karung-karung berisi beras terlihat sangat berat di mataku. Aku menyaksikan
sendiri bagaimana para laki-laki dewasa bekerja dan memindahkan karung-karung
beras itu ke dalam gudang. Dan salah satu diantaranya adalah ayah. Setetes air
mata itu terjatuh, ketika melihat tubuh kurus ayah memanggul karung beras
berukuran besar. Kakiku serasa lemas dan langsung terduduk di atas tanah. Apa
yang pernah ku perbuat padanya, apa yang pernah ku ucapkan padanya, aku
benar-benar menyesal telah mengatakannya. Dia yang seumur hidupnya hanya
berjuang untukku, dia yang seumur hidupnya berusaha tersenyum di depanku,
meskipun bebannya sangat berat. Mengurus dan mengasuhku. Tugas yang seharusnya
di kerjakan seorang ibu, kini semua teralih kepadanya.
“
Arissa, kenapa kamu ada disini?.” Ucap ayah yang sudah menyadari keberadaanku.
Aku mengusap air mataku dan
langsung memeluknya.
“ Ayah… maafkan aku, maafkan aku yang tidak
pernah menghargai perjuanganmu.” Ucapku dalam hati.
* * *
Aku
menekuk kedua lututku sambil memandang kelangit di teras rumah. Melihat
gemerlapan bintang-bintang yang berkelip indah. Melihat rembulan yang berwarna
ke emasan. Seandainya tuhan memberikan aku kesempatan berbicara, aku akan
mengatakan jika aku sangat-sangat mencintainya.
“
Apa yang kamu lakukan di luar sini?.” Ucap seseorang sambil merangkul bahuku
dari belakang. Aku tersenyum. dialah ayahku. Ayah hebat yang berjuang keras
untukku.
Aku
berbalik mentapnya dan tersenyum. berusaha menyampaikan apa yang kurasakan saat
ini.
“
Kamu tahu kenapa tuhan menghadirkan bintang di atas sana bersama rembulan?.”
Tanya ayah.
Aku
menggeleng
“
Karena Allah tidak mau makhluknya merasa kesepian. Sekecil apapun ciptaanya,
Allah tidak akan pernah melupakannya.” Ucapan ayah tiba-tiba membuatku
mengalihkan perhatian lebih padanya. “ Sama seperti ayah, Ayah tidak pernah
kesepian setelah kehilangan ibumu, Karena Allah tidak pernah melupakan ayah
dengan menghadirkanmu.”
Aku
tersenyum dan langsung memeluknya. Inilah satu-satunya ungkapan cinta yang bisa
kuberikan pada ayah.
“ Arissa, menulislah saat kamu tidak
bisa mengungkapkan perasaanmu.” Lanjut ayah. Aku terdiam memandangnya. Kata
yang sama dengan yang di ucapkan ayah ketika pertama mengajariku menulis.
*
* *
Jakarta, Januari 2015
‘ Ketika Fajar
Merekah.’ Inilah buku perdanaku yang akhirnya membawaku pada titik pencapaian
impianku. Berkat kata-kata ayah, berkat ucapan ayah dan berkat kerja keras
seorang ayah. Kini dia berdiri di hadapanku, bersama pada audiens yang lain.
Tersenyum dengan senyum indahnya, dan dengan mata berkaca-kaca atas rasa
bahagianya.
Aku menulis
beberapa kalimat diatas kertas dan menyerahkannya pada juru bicara di
sampingku, aku memintanya untuk memberikan kertas itu pada ayahku. Dan dengan
senang hati, ia menuruti keinginanku.
Aku melihat
wajahnya dengan penuh tersenyum, bahkan saat ayah membaca suratku, aku melihat
air mata kebahagiaan di pipinya, satu kalimat sederhana yang ku tuliskan di
kertas itu dan sangat sulit ku ucapkan.
“ Ayah… Aku
Mencintaimu…”
Subscribe to:
Posts (Atom)






